Dari Persemaian ke Perubahan : Kolaborasi Hijau di DAS Cimanuk-Citanduy

Dari sebutir benih, tumbuh harapan. Dari tangan-tangan perempuan hebat ini, lahir masa depan yang hijau

KAB GARUT | BBCOM – Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan perubahan iklim, Persemaian Permanen Garut, yang berada di bawah naungan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Cimanuk-Citanduy (BPDAS Cimanuk-Citanduy), terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung upaya rehabilitasi hutan dan lahan. Tahun 2025 ini, persemaian tersebut tengah menyiapkan ratusan ribu bibit tanaman yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Saat media ini mengunjungi lokasi persemaian di Kabupaten Garut, aktivitas berjalan intensif. Para pekerja terlihat sibuk menyiram bibit, memindahkan tanaman muda, dan merapikan area pembibitan. Persemaian ini bukan hanya pusat produksi, tapi juga tempat edukasi dan pusat interaksi antara teknisi dan masyarakat yang datang berkonsultasi.

Jenis-jenis bibit yang tersedia meliputi tanaman kehutanan seperti sengon, mahoni, suren, hingga jenis MPTS (Multi Purpose Tree Species) seperti durian, alpukat, dan pete. Semua tanaman ini dipilih dengan memperhatikan kesesuaian lahan dan potensi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Bibit-bibit ini kami rawat sejak awal dengan pengawasan ketat agar kuat dan sehat saat ditanam di lapangan,” ujar seorang petugas lapangan yang telah bekerja di persemaian sejak 2018.

Kepala BPDAS Cimanuk-Citanduy, Umar Nasir S.Sos,.M.Sc., menegaskan pentingnya peran bibit berkualitas dalam mempercepat pemulihan ekosistem daerah aliran sungai.

Kolaborasi yang kuat demi bumi yang hijau Kepala BPDAS Cimanuk-Citanduy, Umar Nasir S.Sos,.M.Sc.,

“Kami menargetkan penyaluran sekitar ribuan bibit tahun ini. Fokus kami adalah pemulihan lahan kritis di DAS Cimanuk dan Citanduy melalui pendekatan partisipatif. Jadi bukan hanya tanam pohon, tapi membangun ekosistem sosial yang turut menjaga pohon tersebut,” ujar Umar saat ditemui di kantornya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya menyediakan pendampingan teknis pasca-distribusi agar tingkat keberhasilan tanam meningkat.

“Kami tidak ingin bibit hanya jadi simbol, tapi benar-benar tumbuh dan memberi manfaat. Karena itu, pendampingan dan monitoring kami lakukan bersama masyarakat,” tambahnya.

Program ini disambut antusias oleh masyarakat dan kelompok tani di kawasan tersebut, bahkan mereka berbagi kisahnya.

“Dulu tanah kami gundul dan gersang, apalagi saat musim kemarau. Tapi setelah tanam mahoni dan alpukat dari persemaian, sekarang tanah mulai sejuk, air sumur lebih banyak, dan kami sudah mulai panen buah untuk dijual,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh Asep Rahmat, seorang pemuda tani yang memanfaatkan program ini untuk mengembangkan agroforestry di lahan miliknya.

“Awalnya saya pikir program ini cuma seremonial. Tapi ternyata bibit yang kami terima benar-benar bagus. Saya tanam pete dan durian di lahan bekas kebun yang rusak, sekarang mulai tumbuh subur. Ini peluang ekonomi juga,” katanya.

Sementara itu, Pak Ujang (56), mengaku awalnya skeptis. Namun setelah menerima bibit suren dan alpukat tahun lalu, kini ia rutin merawat pohon-pohon tersebut setiap pagi.

“Saya tidak punya banyak uang untuk beli bibit. Tapi lewat program ini, saya merasa dihargai dan ikut menjaga kampung saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Dengan dukungan dari semua pihak — pemerintah, masyarakat, dan kelompok lokal — program rehabilitasi berbasis pembibitan ini menjadi harapan nyata untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan DAS Cimanuk dan Citanduy, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Pohon bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan. Kami ingin generasi berikutnya masih bisa melihat hutan yang hijau dan air yang mengalir jernih,” pungkas Kepala BPDAS, Umar Nasir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *