Berdiri atau Duduk?

25 Juni 2019 / 19:19 WIB Dibaca sebanyak: 344 kali Tulis komentar

Sering bepergian dengan moda transportasi massal, seperti kereta commuter line, bus, atau sudah beralih ke MRT?

Pasti tidak asing lagi dengan moda transportasi di atas. Kalau naik transportasi massal pasti selalu ramai bukan? Sulit mendapatkan tempat duduk? Terpaksa berdiri?

‘Aduh! Kalau berdiri jadi pegal kakinya’.

‘Nggak tahan deh kalau berdiri!’

‘Sudah berdiri, berdesakan lagi!’

Mungkin itu beberapa ungkapan yang pernah atau sering dilontarkan di tengah-tengah keruwetan transportasi massal.

“Lebih sering berdiri kalau naik transportasi massal. Duduk kalau beruntung aja,” tutur Ihsanul Fikri Abiyyu, Pemuda kelahiran Jakarta yang menggunakan jasa kereta api tiap harinya.

Banyak dari masyarakat yang kesal atau jengkel karena tidak kebagian kursi, tapi ternyata berdiri juga memiliki manfaat.

Berdiri dapat membakar kalori lebih besar daripada duduk. Menurut hasil analisis kesehatan yang sudah dipublikasikan oleh US National Library of Medicine, berdiri dapat membakar kalori rata-rata 0,15 kcal/menit (kcal adalah satuan kilogram kalori). Untuk wanita pembakaran kalorinya lebih rendah daripada pria yaitu 0,1 kcal/menit berbanding 0,19 kcal/menit.

Studi mengenai manfaat berdiri daripada duduk juga pernah diteliti oleh American Journal of Preventive Medicine. Hasilnya ternyata seseorang yang intensitas duduknya makin sedikit dari berdiri memiliki potensi hidup lebih lama. Tak hanya itu, terlalu banyak duduk juga meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan penyakit kanker.

Kenapa duduk dapat meningkatkan risiko penyakit? Jawabannya ialah posisi duduk dapat mengendurkan otot terbesar dalam tubuh tiap manusia. Jika otot itu beristirahat terlalu lama, pembuluh darah akan lebih sedikit mengambil gula (glukosa) sehingga meningkatkan risiko penyakit diabetes. (Stand Up For Your Health, Harvard Health Publishing, Harvard Medical School)

Tidak hanya terlalu banyak duduk yang menimbulkan berbagai risiko penyakit. Terlalu banyak berdiri juga memunculkan beberapa keluhan penyakit.

Berdiri dengan jangka waktu yang cukup lama akan menyebabkan otot kaki menjadi tegang karena terlalu lama menopang berat badan serta menimbulkan nyeri pada kaki. Tidak hanya nyeri pada kaki, leher dan punggung juga akan menerima imbasnya karena berdiri tegak terlalu lama.

Hal ini dipaparkan oleh Nur Indah P,S.kep, praktisi kesehatan di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. “Berdiri terlalu lama akan membuat otot kaki karena menopang berat badan sehingga menjadi nyeri kaki. Leher dan punggung juga bisa menunjukkan rasa nyeri,” ujarnya lewat aplikasi WhatsApp.

Namun Nur Indah menerangkan jika terpaksa berdiri, apalagi di transportasi massa, sebaiknya mengubah posisi kaki secara berkala. “Kalau terpaksa berdiri sebaiknya ubah posisi kaki secara berkala, seperti menggerakkan kaki. Memilih alas kaki yang tepat juga termasuk cara yang tepat untuk memberi kenyamanan saat berdiri.”

Sejalan dengan yang diungkapkan Nur Indah, Ihsanul juga merasakan hal yang sama jika terlalu lama berdiri. “Leher sama pinggang suka sakit. Apalagi pinggang kerasa ketarik. Bukan pegel lagi, sudah sakit,” kata Ihsanul seraya memijit pinggangnya.

(Ihsanul Fikri, Pengguna kereta api)

Begitu juga dengan terlalu lama duduk. Selain dapat menyebabkan obesitas, terlalu lama duduk, aliran darah ke otak tidak lancar, penurunan kemampuan otak, sulit fokus dan mudah lelah.

“Tapi kalau terlalu banyak duduk juga tidak bagus untuk kesehatan. Aliran darah yang mengangkut oksigen ke otak menjadi tidak lancar, penurunan kemampuan otak, sulit untuk fokus, dan cepat lelah. Selain itu, dapat memicu varises pada kaki, karena alirah darah ke kaki menjadi tidak lancar,” jelas Nur Indah, perempuan asli Palembang yang tinggal di Jakarta.

Hal sama yang dirasakan oleh Ihsanul, ia mengaku jika duduk terlalu lama, ia akan merasa pegal. “Saya duduk terlalu lama juga nggak bisa, suka pegel juga,” akunya.

Menyeimbangkan berdiri dan duduk tampaknya menjadi satu-satunya cara untuk menghindari berbagai risiko penyakit. Tidak ada mana yang lebih baik atau mana yang lebih buruk. Kedua hal ini harus berdampingan dengan porsi yang sama rata.

(Penulis: Fabbiola Irawan, Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *