Balada Kerinduan

19 Mei 2019 / 18:33 WIB Dibaca sebanyak: 427 kali Tulis komentar

Sesosok malaikat tanpa sayap, pahlawan tanpa tanda jasa. Biasa dipanggil dengan sebutan ibu, mamah, bunda, enyak, mami, bundo. Perempuan yang sudah mengandung kita selama 9 bulan, perempuan yang melahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Namun, aku pun tak tahu bagaimana rasanya dirawat dari kecil sampai sekarang olehnya.

Aku kini dirawat dan dibesarkan oleh perempuan yang tidak mengandungku dan tidak melahirkanku. Aku merasa tak seutuhnya mendapat kasih sayang dari seorang ibu kandung, aku merasakannya berbeda.

Betapa bahagianya bila bisa dipeluk hangat, diusap lembut, atau dimanja seperti belasan anak kucing kepada induknya. Aku sangat ingin, ingin sekali. Aku ingin merasakan dirawat dan disayang oleh perempuan yang sudah mengandungku dan melahirkanku hingga aku selamat terlahir di dunia ini.

Bagaimana rupanya, apakah sangat mirip denganku? Apa dia merindukanku? apakah dia mencari tahu keberadaanku? apakah dia ingin tahu kabarku? aku tak pernah tahu. Jelasnya, semua pertanyaan itu selalu muncul dalam setiap salatku, dalam setiap rapalan doaku.

Aku pun kadang bertanya, Mengapa perempuan yang sedarah daging denganku sampai saat ini tidak menemuiku? Apa kehadiranku ini sebenarnya tidak diinginkan sampai dia malu untuk merawatku dan tinggal bersamanya? Apa alasan dia meninggalkanku, sampai rela anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri diasuh oleh orang lain?

Terkadang sempat terbesit pertanyaan yang seharusnya tidak semua anak memikirkan itu, “apa aku ini anak haram?”.

Aku rindu dia, sangat-sangat rindu. Aku ingin bertemu, ingin memeluknya, ingin bercerita semua tentang kehidupanku saat aku tidak bersamanya, ingin menanyakan semua hal yang selalu menghantuiku selama tidak bertemu dengannya.

Tuhan, tolong panjangkan umurku dan umurnya agar nanti Engkau mengizinkanku bertemu dengannya. Tolong pertemukan aku dan dia dalam keadaan masih sehat wal’afiat dan tidak dalam keadaan dia sudah berada di hadapanmu, Tuhan. Aku takut tak bisa melihat rupanya, bahkan untuk satu kesempatan.

Aku mohon dengarkan doaku karena aku benar-benar sangat merindukannya dan ingin bertemu dengannya…

Penulis: Susanti (Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *