Ayahku, Pahlawanku.

14 Mei 2019 / 19:25 WIB Dibaca sebanyak: 346 kali Tulis komentar

Ayah, apa yang orang-orang pikirkan jika mendengar kata itu? Sosok pahlawan? Seorang pelipur lara? Atau bahkan cinta pertama dan terakhir untuk anak perempuannya? Ayah bukan hanya seorang pencari nafkah dalam keluarga, tetapi menjadi pelindung bagi keluarga terutama anak-anaknya.

Penulis: Annisa Nur Fauzi/mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Jurnalistik

SEORANG anak perempuan biasanya selalu dekat dengan Ayahnya. Di samping sibuknya seorang Ayah dengan pekerjaan, ia selalu menyempatkan waktu untuk bermain dan bercanda gurau dengan anaknya. Seorang Ayah tidak akan membiarkan orang lain menyakiti hati anaknya. Ia tidak ingin melihat mata anaknya mengeluarkan setetes pun air mata. Apa pun akan dilakukan oleh seorang Ayah.

Namun, tidak semua anak perempuan beruntung. Tidak semua anak perempuan bisa menikmati indahnya masa-masa bersama sang Ayah. Seperti aku, aku tidak seberuntung anak-anak perempuan pada umumnya. Ayahku sangat dingin, sibuk, dan terlalu fokus pada pekerjaannya. Setiap minggu ia hanya menjadikan rumah sebagai tempat singgah sementara, lalu pergi lagi untuk pekerjaannya. Jangankan bercanda gurau dengan Ayah, aku pun jarang sekali terlibat percakapan dengan Ayah. Hanya sepatah dua kata yang terucap, “Mau apa? Mau makan apa?”, hanya itu.

Sesekali aku ingin menjawab, “Aku butuh waktu Ayah aku ingin bermain dengan Ayah”. Namun kata-kata itu tidak bisa terucap. Aku bungkam, aku hanya bisa terdiam dan menjawab seperlunya apa yang ia tanyakan. Adakah yang salah dalam diriku? Atau memang sifat Ayahku yang sedingin itu? Aku memikirkannya setiap malam, “Salah apa aku? Kenapa aku tidak seberuntung teman-temanku?”. Aku sempat berpikir apakah Ayahku lebih mencintai pekerjaannya dibandingkan denganku? Uang adalah segala-galanya untuk Ayah? Sampai kapan aku menjalani kehidupan di dalam keluarga seperti ini.

Tak pernah sekali pun aku mendengar kata “sayang” yang terucap dari mulut Ayah. Aku iri, aku malu, aku ingin seperti teman-temanku. Aku ingin mempunyai cerita bersama Ayah, momen berharga bersamanya dan hal-hal yang membuatku bahagia bersama Ayah. Aku ingin ia mengetahui keberadaanku, anaknya. Kalau bisa, aku ingin membeli waktu Ayahku sedikit saja. Aku ingin menjadi fokus utamanya dan menyingkirkan perkerjaannya. Itulah yang aku pikirkan saat kecil. Hanya bisa menangis, diam, dan menangis lagi.

Sejak umur 15 tahun, aku sudah sering ditinggal Ayah bertugas ke luar kota. Jika beruntung, aku bisa bertemu Ayah satu kali dalam sebulan. Namun, jika sedang tidak beruntung, Ayahku bisa kembali ke rumah hanya satu kali dalam 3 bulan. Semakin rengganglah hubungan kami berdua. Datang ke3o rumah, istirahat sebentar, lalu pergi. Hanya itulah kegiatan Ayahku selama 5 tahun terakhir ini. Lagi-lagi tidak ada percakapan antara aku dan Ayah. Saat aku masih sekolah, ia tidak pernah bertanya-tanya tentang kegiatanku di sana. Setiap akhir semester ia bahkan hanya melihat nilai rapotku sekilas dan menandatanganinya. “Miris sekali hidup ini”, kataku dulu.

Pemikiran saat aku kecil mungkin belum sejauh seperti sekarang. Semakin dewasa aku semakin paham bahwa apa yang dilakukan Ayahku, mengapa ia terlalu fokus kepada pekerjaannya karena itu semua untukku. Untuk masa depanku, Ayah rela menghabiskan waktunya, pagi sampai malam hanya untuk anaknya, yaitu aku. Wajahnya yang semakin menua, tubuhnya yang semakin lemah, masih terus berusaha mencari rupiah demi rupiah untuk segala kebutuhan anak-anaknya. Ia mampu memenuhi segala kebutuhanku dari kecil hingga sekarang, mulai dari kebutuhan sekolah, kuliah, jajan sehari-hari dan hal hal kecil lainnya.

Di umurku yang hampir berkepala dua ini, aku semakin memahami bahwa setiap orang tua terutama seorang Ayah mempunyai cara tersendiri untuk menyatakan sayang kepada anaknya. Ada yang memberitahu lewat ucapan dan kata-kata, ada pula yang menyatakan kepada anak-anaknya melalui pengorbanan. Mungkin Ayahku adalah salah satunya yang mengungkapkan bahwa ia mencintai dan menyayangi anak-anaknya melalui pengorbanannya selama ini. Ia mengorbankan banyak waktunya demi masa depan anak-anaknya kelak. Ia tidak ingin anak-anaknya sama seperti dirinya. Ayahku ingin melihat anaknya bisa menjadi seorang sarjana dan berguna bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai-sampai ia pun lupa bahwa perhatian dan kasih sayang juga penting untuk anaknya bukan hanya materi belaka. (***)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *