Apa Kabar Pasar Cisalak?

23 Juni 2019 / 18:55 WIB Dibaca sebanyak: 351 kali Tulis komentar

Saut-sautan dari para pencari nafkah di pagi buta. Menjajakan apa yang mereka punya untuk memenuhi segala kebutuhan. Membiasakan diri dengan hiruk pikuk kehidupan. Tawar-menawar adalah cara mereka berkomunikasi, hingga malam nanti. Berharap semoga hari ini berlimpah rezeki.

Pagi ini saya memutuskan untuk menemani ibu saya berbelanja ke salah satu pasar di Kota Depok, yaitu Pasar Cisalak. Pasar tradisional ini terletak di Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Seperti biasa ibu saya berbelanja bahan makanan untuk sehari-hari di rumah. Sudah tidak aneh lagi apabila mencium aroma tak sedap dari bahan makanan dan sampah yang bercampuran, menginjak jalanan yang kotor dan becek, serta berdesakan dengan pembeli lainnya. Kegiatan di pasar ini tidak pernah berhenti karena pasar beroperasi selama 24 jam.  Namun, apabila telah malam, beberapa pedagang pulang jika ingin pulang, dan tetap tinggal jika ingin menetap. Tergantung dari ramai atau sepinya pembeli.

Sebenarnya Pasar Cisalak telah memiliki gedung yang kokoh dan layak bagi para penjualnya. Gedung yang sengaja dibangun sebagai tempat relokasi bagi pedagang yang terkena musibah pada kebakaran pada 2013 lalu ini, kini sudah dapat digunakan dan beberapa kios sudah di isi. Sayangnya, gedung tersebut tidak dipergunakan dengan maksimal. Gedung yang dibangun sekitar lima tahun lalu itu sepi dari kegiatan pasar. Pasalnya, tidak banyak pedagang yang menggunakan gedung tersebut, dan memilih untuk tetap berdagang di kios-kios kecil di pinggir jalan. Bersahabat dengan panas terik matahari, debu-debu jalanan, aroma tidak sedap, dan suara bising dari segala penjuru arah. Bagi mereka hal itu sudah biasa, mereka justru merasa lebih untung jika berdagang di luar daripada di dalam gedung.

Karena penasaran, saya mencoba untuk memasuki gedung pasar tersebut. Benar saja, tidak banyak yang berdagang di sana. Hanya ada pedagang emas, busana, tukang jahit, dan beberapa usaha jasa. Ada pula pedagang sayur, buah, daging, dan sembako, namun hanya sedikit. Sepinya kegiatan pasar dan minimnya pencahayaan di dalam gedung membuat suasananya semakin tidak nyaman untuk berbelanja. Pedagang yang pindah ke dalam gedung adalah pedagang yang dulu kiosnya ikut terbakar. Tidak semua pedagang korban kebakaran pindah ke gedung tersebut, beberapa di antaranya memilih untuk tetap di tempat relokasi sebelumnya, yaitu di Radar Auri. Akhirnya, gedung itu kini terbengkalai begitu saja.

Menurut salah seorang pedagang, pembeli lebih ramai berbelanja di luar daripada di gedung. Oleh karena itu, mereka memilih untuk tetap berada di luar daripada harus pindah ke dalam gedung. Selain karena banyaknya pembeli di luar, alasan lainnya adalah karena sewa kios di luar lebih murah. Padahal, jika saja semua pedagang mau pindah ke dalam, pasti pembeli pun ikut ramai berbelanja di dalam. Semua orang pasti ingin berbelanja dengan aman dan nyaman. Tidak panas-panasan, becek-becekan, atau desak-desakan. Tetapi, baik penjual maupun pembeli tidak masalah gerah yang penting murah.

Sebenarnya sudah ada larangan untuk berjualan di luar. Tidak jarang para pedagang ditegur oleh Satpol PP untuk pindah karena banyak sekali yang menaruh lapak dagangannya di mana saja, yang penting dagangannya terlihat oleh pembeli. Sudah pasti hal itu membuat sebagian besar orang merasa terganggu. Selain sebagai tempat berjualan, Pasar Cisalak juga menjadi akses bagi pengendara yang ingin menuju ke Tapos, Cibubur, dan sekitarnya. Sungguh sangat tidak nyaman ketika melintas justru malah berdesak-desakan dengan pembeli karena sempitnya jalan oleh para pedagang. Niatnya ingin menghindari kemacetan lalu lintas, malah terjebak macet karena lautan manusia.

“Pernah ditegur sama Satpol PP, soalnya emang jualannya pada sembarangan gitu di mana aja, terus beberapa kios yang dipakai juga bukan milik pasar tapi milik sebuah PT.” ujar Didi. Didi adalah salah satu pedagang yang memilih untuk menetap di kios lamanya di pinggir jalan. Ia sudah menjalankan usaha perabot rumah tangga selama sepuluh tahun. Alasannya tidak pindah ke gedung yang baru adalah uang sewa kios yang lebih mahal. “Uang sewa kios di dalem mahal, udah gitu saya gak kena kebakaran waktu itu, ini saya jualan di sini dari sebelum kebakaran sampai sekarang, udah betah aja di sini jadi gak pindah.” Ujarnya lagi, sambil bisik-bisik.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk membuat Pasar Cisalak tertata rapi, salah satunya adalah gedung baru ini. Selain sebagai tempat relokasi para pedagang yang kiosnya telah terbakar. Pemerintah berharap gedung ini dapat menjadi tempat yang layak dan nyaman bagi pedagang dan pembeli. Sudah seharusnya gedung tersebut digunakan dengan semestinya, agar setiap fasilitas juga berfungsi dengan semestinya. Tidak ada lagi jalan yang dipakai untuk berdagang, atau menjadi lahan parkir liar. (Penulis Rodhiyah/Politeknik Negeri Jakarta Program Studi Jurnalistik)

 

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *