Skenario Tuhan

19 Mei 2019 / 17:52 WIB Dibaca sebanyak: 458 kali Tulis komentar

Sumber Gambar Google

Banyak orang yang berkata kalau mereka jadi aku tidak akan sekuat aku, menjadi anak ketiga dari tiga bersaudara yang dibesarkan tanpa seorang Ibu adalah hal tersulit yang aku rasakan saat ini.  Ketika melihat mereka yang  memiliki seorang Ibu di sampingnya yang menjadi salah satu penyemangat dalam hidupnya rasanya aku iri kepada mereka.

Dari usia tiga bulan,  hingga saat ini usiaku 20 tahun, aku belum merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang Ibu yang semestinya aku rasakan sampai detik ini. Bude dan pakde yang merawatku dari kecil sampai saat ini memang sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri, tetapi beda sekali rasanya seperti anak-anak lainnya yang memiliki keluarga lengkap dan utuh.

Aku dididik mandiri dari kecil, disekolahkan di pondok pesantren oleh budeku adalah sesuatu hal yang menjadikan aku sekuat ini. Jauh dari keluarga dan orang terdekat yang ku sayang membuatku tidak manja dan bisa dikatakan kelewat mandiri. Aku merasakan benar-benar seperti hidup sendiri, pelangiku hilang, hanya awan mendung yang kini ku lihat. Aku sadar, tidak bisa terus-terusan aku menyesali takdir ini.

Ayahku menikah lagi dan memiliki dua anak perempuan. terkadang aku menginap dirumahnya sekadar hanya bersilaturahim agar ayahku tetap tahu kondisiku saat ini. Ayah selalu berpesan agar aku semangat belajar dan menuntaskan studi ku. Watak dan adat ayahku lah yang kadang aku tidak ingin berlama-lama di rumahnya. Belum lagi jika ia berbicara dengan nada yang keras dan membentakku.

Ketika aku memiliki masalah dengan keluarga, aku selalu menangis dan bertanya “kenapasih keluargaku harus seperti ini?” rasanya tidak ada satu pun orang yang menyayangiku dari aku lahir. Mereka bilang aku kebanggaan keluarga, tetapi aku tidak merasa dibanggakan. Aku menjalani hidupku sendiri sebagaimana adanya, aku ikuti skenario yang tuhan berikan padaku. Memiliki teman yang baik, menghibur dan menyemangatiku mungkin salah satu faktor mengapa aku masih kuat menghadapi ujian ini.

Sekarang aku hanya ingin menunjukkan kepada keluargaku bahwa aku bisa mandiri tanpa mereka selalu ada disampingku, aku ingin membahagikan ibuku yang sudah berada di surga, aku ingin menjadi salah satu bintang yang dapat menerangi ibuku di alam sana. Aku yakin, semua akan indah pada waktunya. ( Nur Aini PNJ)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *