Sinergitas Penta Helix Merawat Alam dan Mitigasi Bencana

23 Februari 2019 / 07:58 WIB Dibaca sebanyak: 759 kali Tulis komentar
Bagikan

BANDUNG BBCom-Bertempat di Grand Asrilia Bandung, Jumat 22 Februari 2019, digelar Seminar Nasional dan Bedah Buku “Kembalikan Citarum Harum Kembali” hani ini momentum satu tahun pencanangan program Citarum Harum.

Kegiatan yang digelar bersama oleh BNPB, Kodam III Siliwangi, Dinas Lingkungan Hidup Jabar, dan Citarum Institute. Bertujuan untuk menggulirkan niat baik kita semua untuk merawat dan kesadaran dan pentingnya berfikir bagi ihtiar pengurangan bencana yang saat ini harus menjadi fokus perhatian kita bersama.

Seminar nasional tersebut menghadirkan tiga pembicara utama : yaitu, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo. Deputi 4 Kemenko Maritim Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA , dan Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil, ST, MUD.

Dalam seminar juga dihadirkan event Bedah Buku “Kembalikan Citarum Harum” yang merupakan buku setebal 380 halaman hasil telisik dua orang  Joko Irianto Hamid dan Esa Tjatur Setiawan yang menulis paparan jurnalistik yang diniati untuk menjawab kritikan dunia internasional dimana sungai Citarum dijuluki “sungai terkotor sedunia” sejak 2013 oleh Black Smith Institute, organisasi nirlaba berbasis di New York. Kualitas sungai hakekatnya menggambarkan kualitas peradaban suatu bangsa. Akan dikupas oleh Irma Hutabarat (Vetiver Indonesia); Joko Irianto Hamid (Lensa Indonesia.com), Dadan Ramdhan (Walhi Jabar), Haryono Budi Utomo (Artha Graha Peduli) dan Leonard Simanjuntak (Green Peace Indonesia)

Panel sesi 1 dengan tema Sinergitas Pentahelix Merawat Ekosistem Citarum, oleh, Pangdam III Siliwangi, Rektor UNPAS-Ketua APTISI JABAR-Banten, Dr. Tisna Sanjaya Ipong Witono (Rumah Nusantara – Wanadri), Dr. Eki Baihaki, M.Si (Ketua Citarum Institute) Moderator : Pius Suratman Kartasiasmita, PhD

Sedangkan untuk Panel Sesi 2: Sinergitas Pentahelix Penegakan Hukum Pencemaran Lingkungan oleh, Kapolda Jabar, Dr. Haeru Rahayu (Kemenkomaritim), Dr. Dini Heniarti, SH.,MH, Leonard Simanjuntak (Green Peace Indonesia) dan Samsoel Maarif (Wakil Apindo) Moderator: Dr. Heris Hendrayana, M.Pd (IKIP Siliwangi)

Panel Sesi 3: Pembelajaran pengelolaan DAS untuk mitigasi bencana oleh,  Ir. Ida Bagus Putera Parthama, M.Sc. PhD. (KLHK), Kepala Sekolah Sungai Klaten, Toto Pratopo (Komunitas Pemerti Code-Yogyakarta), Usman Firdaus (Ketua Komunitas Matpeci-Jakarta), Prigi Arisandi (Ketua Komunitas Ecoton-Jawa Timur) Moderator : Dr. Agus Maryono (UGM)

Alhamdulilah sejak awal tahun 2018  telah hadir Program Citarum Harum, yang secara regulasi diperkuat dengan Perpres No 15 tahun 2018. Program tersebut telah menerbitkan optimisme dan harapan baru dengan hadirnya partisipasi publik yang signifikan, dalam menjawab problematik masalah Citarum yang demikian terstruktur sistimatis dan masif. Bahkan sempat menimbulkan pesimisme publik untuk pemulihannya.

BACA JUGA  DPRD Jabar Sahkan Perda Perubahan Pajak “BBN Kendaraan Bermotor Naik Dari 10% Menjadi 12,5%” 

Program Citarum Harum diinisasi dan diperjuangkan bersama oleh Jenderal yang memiliki passion pada konservasi alam dan lingkungan,(Doni Monardo) saat itu menjabat Pangdam III Siliwangi, Gubernur Jabar (Ahmad Heryawan) dan hadirnya dukungan kuat Pemerintah Pusat melalui Kemenkomaritim serta berbagai pihak yang peduli Citarum dari kalangan akademisi, pegiat lingkungan, budayawan, agamawan dan media.

Bangsa Indonesia, saat ini dan kedepan ditakdirkan untuk siap  menghadapi bencana yang sifatnya multi sektor, multi dimensi dengan kompleksitas yang tinggi. Maka mitigasi bencana  harus menjadi fokus perhatian kita bersama. Mitigasi bencana dilakukan melalui ihtiar untuk meningkatkan dan pengurangan risiko bencana. Tidak hanya saat darurat saja tapi juga pra bencana dan pascabencana.

Hal itu ditambah dengan kondisi Indonesia berada di daerah cincin api (ring of fire), maka bencana di Indonesia adalah keniscayaan. Setiap setiap tahunnya, rata-rata terjadi bencana hampir 2.500 kejadian bencana setiap tahun. Apalagi budaya sadar bencana dan tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah masih rendah. Padahal jutaan masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan bencana dengan kemampuan mitigasi yang masih minim.

Belajar dari pitutur, wisdom atau kearifan masyarakat adat yang telah membuktikan cara hidup yang bersatu dengan sesama dan alam (hablumminal alam) telah mampu membuat alam tetap lestari dengan termasuk kearifan menyikapi bencana. Alvin Toffler telah menyuratkan bahwa sistem peradaban kini bertumpu pada kekuatan olah pikir dan logika relevan dengan ajining nalar ngluwihi dinar sak latar); alam takambang jadi guru

Sinergitas Pentahelix Secara ideal, semestinya segenap segmentasi masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Inpres No. 7 tahun 2018 dapat mengikuti model Pentahelix yang melibatkan elemen Government (G), Academics (A), Business (B), Community (C), dan Media (M) atau disingkat GABCM yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai Pemerintah, Dunia Pendidikan, Dunia Usaha, Komponen Masyarakat, dan Media.

Penggunaan model Pentahelix ini juga diharapkan dapat meningkatkan rasa kebersamaan segenap Bangsa dan warga negara melalui Aksi Nasional Bela Negara. Dalam praktiknya hal ini merupakan smart power sebagai perwujudan aksi Bela Negara yang berbasis budaya dan kearifan lokal melalui penerapan skill, strategy, system, dan structure dalam mencapai target yaitu kemakmuran rakyat.

Sinergi hakekatnya adalah ihtiar kita membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan,untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.

Tujuan Sinergi adalah mempengaruhi perilaku orang secara individu maupun kelompok untuk saling berhubungan, melalui dialog kontruktif untuk keberhasilan bersama.Sinergi adalah saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil yang lebih besar daripada jumlah bagian per bagian.

BACA JUGA  DPRD Jabar Terus Dorong Pemprov Percepatan Penangan Covid-19 Tepat Sasaran

Ber-Sinergi berarti Saling Menghargai Perbedaan Ide, Pendapat dan bersedia saling berbagi.  Ber-Sinergi tidak mementingkan diri sendiri, namun berpikir menang-menang dan tidak ada pihak yang dirugikan atau merasa dirugikan. Ber-Sinergi bertujuan memadukan bagian-bagian terpisah. Sinergi adalah Hasil lebih Besar yang didapatkan dalam sebuah Kerjasama

Sinergi adalah proses yang harus dilalui masing-masing pihak, yang mana perlu waktu dan konsistensi.  Hal-hal yang perlu dilakukan untuk membangun rasa saling ercaya sehingga Sinergi terbangun sebagai kerjasama kreatif untuk memecahkan dan mencari solusi secara bersama.

Peran masing-masing elemen ini dalam ihtiar merawat alam dan mitigasi bencana sebagai berikut :

1. Unsur pemerintah, tentu saja memiliki peran sangat strategis, sangat diharapkan agar memiliki komitmen dan kebijakan yang kuat dalam merawat alam dan mitigasi bencana. Termasuk ketegasan dalam menerapkan regulasi  yang adil bagi semua. Dan kebijakan yang mampu merangkum harapan bagi kepentingan yang lebih besar.

2. Unsur akademisi dengan kepakarannya diharapkan dapat  memberikan terobosan-terobosan yang inovatif, kajian yang aplikatif termasuk turut terlibat dalam komitmen merawat alam dan mitigasi bencana serta menjadi bagian dari kekuatan kritis yang kontruktif.

3. Unsur pelaku bisnis, terutama bisnis yang berdampak kepada pencemaran lingkungan. Perlu kita dorong agar mau menjalankan bisnis industri bersih dan berkomitem menjaga alam tetap lestari dan kesadaran untuk mendukung program mitigasi bencana.

4. Unsur Media, diharapkan mampu menebar virus bela Negara bidang lingkungan melalui informasi dan edukasi termasuk dalam membangun kesadaran akan mitigasi bencana. Dan menjadi bagian dari kekuatan kritis yang kontruktif.

5. Unsur Komunitas, yang hadir di ditengah-tengah masyarakat memiliki peran penting penting untuk turut menebar virus belanegara bidang lingkungan. Dan menjadi bagian dari kekuatan kritis yang kontruktif yang untuk menyuarakan kepentingan masyarakat.

Keberhasilan sinergi penta helix juga akan berhasil optimal jika, pemerintah mau dan mampu merangkul segenap elemen penta helix lainnya bukan sebagai sub ordinasi dan objek semata. Namun sebagai mitra kreatif dan kontruktif bagi turut tercapainya visi dan misi dari semua elemen yang ada.

Dan tentu sikap proaktif dan komitmen dari segmentasi lainnya, akademisi, media, komunitas dan bisnis bagi terwujudnya sinergitas pertahelix bagi kepentingan bangsa dan Negara. Semoga ! (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *