Sempat Tak Dapat Izin Mondok, Kini Nisa Buktikan Tekadnya Untuk Menghafal Al-Qur’an

5 Agustus 2020 / 21:28 WIB Dibaca sebanyak: 108 kali Tulis komentar
Bagikan

SEMARANG | BBCOM | Nisa (20), merupakan salah satu santri dari Rumah Tahfidz Nurul Qur’an Semarang yang berhasil menjadi santri terbaik pada Ujian Tahfidz yang diselenggarakan pada (24/7) lalu. Santri anggun yang memiliki nama lengkap Khoirotun Nisak Ulaini ini memulai perjalananya sebagai seorang santri sejak ia berusia 13 tahun, atau saat ia baru duduk di bangku MTS.

Sudah tujuh tahun Nisa mondok di Rumah Tahfidz Nurul Qur’an ini. Tentu banyak rintangan dan perjuangan yang harus ia lalui. Terlebih kedua orang tuanya telah tiada sejak ia masih belia. Namun hal itu tak membuat Nisa berkecil hati, justru hal ini yang memacu semangat Nisa untuk bisa memberi kebanggan untuk Bapak Ibunya di akhirat sana, yakni dengan menjadi hafidz Qur’an yang menjadi salah satu cita-citanya sejak kecil.

BACA JUGA  LAGI Macan Tutul Gunung Syawal DIJEBAK WARGA

Sejak masih belia, Nisa telah tinggal dan diasuh oleh ayah dan ibu sambungnya. Ayah sambungnyalah yang mendukung penuh mimpi Nisa untuk bisa menjadi hafidz Qur’an. Namun tak senada dengan ibu sambungnya yang lebih mengharapkan ia segera bekerja saja. Meski demikian, Nisa tak henti-hentinya untuk mencoba mengambil hati sang ibu agar mendapat restunya untuk mondok dan menghatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’annya.

Berkat kegigihan, semangat dan keseriusan Nisa dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an di Rumah Tahfidz Nurul Qur’an ini, membuka jalan baginya mendapat restu dari sang ibu sambung. Hati ibunya pun luluh mendengar bait-bait hafalan yang Nisa lantunkan.

“Dulu perjuangan banget buat dapet restu ibu untuk mondok dan ngafal Al-Qur’an, ya mungkin itu memang salah satu ujian saya saat ingin fokus ngafal, tapi allhamdulillah seiring berjalannya waktu sekarang ibu jadi terbuka dan merestui banget apa yang saya lakukan, terlebih saat kemarin saya ujian tahfidz di rumah yang disaksikan langsung sama bapak ibu itu salah satu hal yang membuat ibu akhirnya luluh,” tutur Nisa seraya menahan air mata harunya.

BACA JUGA  Ada Sebuah Harapan di Saung Kecil

Pada momentum safari qurban ini dengan disaksikan oleh ratusan santri dari bebebrapa rumah tahfidz di wilayah Grobogan, Nisa berhasil menjadi santri terbaik pada ujian tahfidz kali ini. Harapannya, ilmu yang dimiliki Nisa menjadi ilmu yang bermanfaat dan senantiasa diberikan kemudahan, kekuatan, dan keistiqomahan dalam menjalani aktivitasnya dalam menimba ilmu. (rls/rd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *