oleh

Satu Keluarga Diusir Secara Paksa, Kuasa Hukum Kecam Tindakan Premanisme

BANDUNG | BBCOM | Satu keluarga merasa terintimidasi akibat pengusiran dari rumah secara paksa yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal. Korban pengusiran laporkan kejadian ini ke Polda Jawa Barat.

Menurut keterangan korban sekaligus saksi peristiwa, Marsina (72), pengusiran terjadi pada Hari Rabu, sekitar pukul 10 pagi. Di rumah yang berlokasi di Jalan Sudirman No. 218 Kota Bandung.

Diceritakan Marsina, awal peristiwa pengusiran yang menimpa dirinya beserta anak dan cucunya, ketika sedang menjemur pakaian. Dirinya mendengar ada suara orang yang sedang berbicara di halaman bawah rumah.

“Ada tiga atau empat orang mereka. Ada yang berpakaian hitam, putih, serta ada yang menggunakan rompi (seperti) tentara,” ingatnya menceritakan kepada wartawan, Kamis (04/02/2021).

Kemudian, lanjutnya, saya masuk ke dalam memberitahukan anak-anak saya. “Sepuluh menit kemudian, dari atas terdengar ada yang menggunting, sepertinya menggunting pagar yang ada di (lantai) atas. Lalu saya meminta anak saya untuk memvideokan, (untuk digunakan) sebagai bukti,” tuturnya.

BACA JUGA  Truk Boks Oleng Terbalik di Ruas Jalan Cikopo Palimanan

“Awalnya yang saya lihat tiga (3) orang, koq lama-lama jadi rame ada sepuluh (10) orang turun. Saya tanya, apa urusan bapak datang ke sini?, mereka bilang kami disuruh, kami karyawan pak Luki, karyawan maribaya,” paparnya ditemani anak dan satu cucunya yang ikut ada saat kejadian pengusiran.

Mereka menunjukan surat, kata Marsina, tapi mereka tidak kasih lihat. “Mereka mengatakan bahwa surat tersebut meminta kami untuk keluar dari rumah, kosongkan rumah,” tambahnya.

“Kami tidak mau, karena kami tidak tau persoalannya. Karena perbatasan tanah bukan di situ, ini tanahnya pak Hendra,” ucapnya ketika menjawab pihak yang saat itu ingin mengusirnya.

Namun mereka tetap memaksa, bahkan mengancam akan melakukan tindakan radikal bila kami tidak mau keluar.

“Dari luar rumah ada yang berteriak, tolong (keluar) kalau tidak kami radikal. Ibu mbak ini orang tua. Mbak mau pilih diseret, didorong atau digendong?,” tutur Fitria Carolin (anak Marsinah) yang juga saksi peristiwa, menirukan ucapan ancaman yang diterima saat kejadian.

BACA JUGA  Kapolri Kunjungi KPK Bahas Kerjasama Pemberantasan Korupsi

Singkat waktu, akhirnya keluarga yang ada di rumah pada saat itu terdiri dari 3 orang, diantaranya Marsinah (72), Fitria Carolin (39), dan Mikel (11) terusir secara paksa keluar rumah.

“Mama saya didorong keluar, keponakan saya didorong keluar, semua keluar,” ungkapnya.

Sementara, Kuasa hukum korban pengusiran, H. Brambani S.H mengecam aksi pengusiran dengan cara premanisme. Karena mengeksekusi tanpa alasan yang jelas. “Pengadilan saja, mengeksekusi harus berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah inkrah, ada pembacaan putusannya” tegasnya.

“Untuk itu kami mengutuk keras (perbuatan pengusiran), karena di dalam rumah itu ada orang tua, ada anak kecil,” kecamnya.

“Dan kami minta perlindungan kepada Kapolda Jawa Barat agar segera mengusut siapa aktor intelektual di belakang (kejadian) ini,” harapnya. (dd/cuy)

Komentar