Salahkah Aku Menjadi Pemaaf?

19 Mei 2019 / 19:24 WIB Dibaca sebanyak: 256 kali Tulis komentar

Ilustrasi foto: http://bestkartun.blogspot.com/2018/05/gambar-kartun-anak-ayah-dan-ibu-keren.html

Di tengah suasana riuh rendah yang ada di ruang utama rumah bertingkat dua milik Kakekku, ada sebuah senyum sederhana yang terpancar dari seorang wanita. Senyuman yang mampu mengalihkan pandanganku dari tumpukan toples nastar dan kue kering lainnya, mengingat sedang dalam suasana menjelang lebaran.

Wanita itu tidak lain adalah Ibuku. Dia yang sedang mendengarkan keluh kesah salah satu adik iparnya yang ada di ruang utama itu. Meskipun pernah ada pengalaman tidak begitu baik dengan beberapa orang yang ada di ruang utama itu, kuperhatikan Ibu tetap melempar senyum dan memberi saran untuk mereka. Senyuman itu kuyakini tulus dari seorang yang pemaaf seperti Ibu.

Pemaaf, itulah salah satu sifat yang paling kuingat dari Ibu. Sangat bertolak belakang dengan diriku. Suatu ketika aku pernah merasa sangat kesal dengan temanku karena ia menuduhku sudah menghasut temanku yang lain, Chatty, untuk menjauhinya. Padahal aku dan Chatty menjadi dekat karena kita terlibat dalam satu tim teater. Menjauhnya Chatty dari dia pun bukan karena hasutanku, melainkan karena kegiatan di teater yang cukup menyita waktu sehingga kami jarang ada di kelas.

Mendengar ceritaku itu, Ibu hanya tersenyum,”Dalam hidup ada saja orang yang akan berusaha menjatuhkan nama kita. Tetapi percaya deh sama Ibu, suatu saat mereka akan berubah. Yang perlu kita lakukan hanya bersikap tenang dan tidak menggubris ucapan mereka terhadap kita,” ujar Ibu.

Pada saat itu aku hanya bisa menatap Ibu heran dan menebak-nebak apakah Ibu memang selalu seperti ini. Seketika aku teringat cerita Ibu saat masih tinggal di rumah Kakek, Ibu pernah diperlakukan agak seperti pembantu. Ibu merasa suruhan-suruhan ketus yang Ibu dapat dari adik-adik Bapak saat itu adalah wajar karena Ibu saat itu memang menumpang. Namun aku sebagai pendengar bukan mempermasalahkan kewajiban Ibu sebagai penumpang, tetapi cara Ibu disuruh dengan ketus seolah Ibu bukan anggota keluargalah yang membuatku kesal.

“Itu kan sudah bertahun-tahun yang lalu dek. Tidak perlu dipendam terus-menerus” selalu saja seperti itu jawaban Ibu bila kutanya mengapa Ibu tetap dan selalu bersikap ramah dengan orang yang pernah menyakiti perasaannya. Bukan tidak mungkin Ibu belum melupakan sikap tidak baik yang pernah adik-adik Bapakku lakukan. Tetapi kepercayaan Ibu terhadap orang lain lah yang menurutku ada baiknya dicontoh.

Beberapa bulan setelah bercerita tentang seorang teman yang pernah menuduhku kepada Ibu, aku merasakan apa yang Ibu katakan memang benar terjadi. Temanku benar berubah menjadi baik, seolah kejadian yang lalu itu tidak pernah terjadi. Dia menjadi sering mengajakku bicara dan sikapnya padaku sudah tidak dingin.

Sejak kejadian dituduh itu, aku memang tidak menggubris ucapan temanku ini sama sekali. Kalau aku kedapatan kerja kelompok dengannya, aku tidak pernah bersikap ketus. Dari sini aku beranggapan, tidak membalas sikap buruk orang lain dengan sikap buruk lagi akan menimbulkan efek sadar diri pada orang yang pernah menyakiti atau menjatuhkan kita.

Dari Ibu, aku banyak belajar soal menjadi Pemaaf. Memaafkan bukan berarti kita lemah. Berusaha melupakan keburukan orang lain dengan tetap menerima perubahan baik mereka bukan berarti naif. Memaafkan bagi Ibu adalah obat. Obat untuk segala penyakit hati, seperti iri, dengki, atau prasangka buruk. Ibu juga percaya, dengan memafkan dapat membuat diri seperti terlahir kembali. (Tia Astuti)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *