Ramadan Tanpa Ibu

19 Mei 2019 / 19:14 WIB Dibaca sebanyak: 133 kali Tulis komentar

Ibu merupakan sosok yang mempunyai rasa kasih sayang begitu besar, sosok yang beperan penting dalam keluarga, sosok panutan dalam keluarga sama seperti ayah, dan sosok yang akan memberikan apapun untuk keluarganya. Kasih sayang ibu sepanjang masa, begitulah kata-kata yang sering kita dengar, tapi bagaimana rasanya jika harus menjalani kehidupan sehari-hari tanpa ibu? Terutama saat Ramadan.

Bulan Ramadan merupakan bulan yang selalu dinantikan oleh masyarakat. Banyak perbedaan pada bulan ini dengan bulan-bulan biasanya. Pada bulan Ramadan banyak penjual takjil di pinggir jalan, sahur dan berbuka puasa bersama keluarga, berbuka puasa bersama orang-orang tederkat ataupun bersama orang-orang yang jarang bertemu dengan kita, berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat, salat tarawih berjemaah, dan lain-lain. Suasana Ramadan sangat ramai dan gembira, tetapi bagi sebagian orang yang tidak memiliki ibu ada sedikit rasa sedih di hati. Tidak dapat merayakan indahnya Ramadan bersama ibu dan merasa kesepian saat Ramadan tanpa ibu, itulah yang aku rasakan.

Ibuku telah meninggal dunia. Aku hanya tinggal bersama ayah dan adikku. Ramadan kali ini harus aku lewati tanpa ibu lagi. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya, tak seramai saat ada ibu yang selalu melemparkan lelucon untuk kami. Rumah juga tak terasa sehangat saat ada ibu. Ibu yang merubah suasana keluarga, maka saat tak ada ibu suasana keluargaku jadi monoton.

Mayoritas dalam keluarga, pasti ibu yang memasak dan menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka puasa, semua orang akan menulis kata terima kasih pada ibu atau merasa sangat berterima kasih pada ibu. Kini, untukku hal itu tak berlaku lagi. Kini, ayahku yang memasak dan menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka puasa. Ayahku juga yang membangunkanku untuk sahur. Ayahku merangkap menjadi seorang ayah dan juga ibu untuk kami.

Memang ayah dan ibu tak bisa disamakan. Ayah tak sepandai ibu saat memasak, masakan ayah sering gosong, keasinan atau kemanisan. Namun, kami masih tetap menghargai itu walaupun kami juga kadang suka mengomentari masakannya karena bagi kami kalau tidak ayah, memang siapa lagi yang akan mengurusi hal ini?

Ramadan tanpa ibu sangat membosankan dan terasa sangat sepi sampai menyakitkan hati. Kami tidak bisa lagi ngabuburit dan tarawih bersama. Kini, Hal itu telah sirna dari kehidupan kami. Melihat orang lain masih bisa tertawa dan bercanda bersama ibunya saat ngabuburit dan melihat orang lain tarawih bersama ibu, hatiku sedikit hancur, rasa iri menyeruak di dalam hatiku. Kini, aku tak bisa lagi melakukan itu, aku harus tarawih seorang diri karena adikku selalu bersama teman-temannya.

Rumah akan terasa jauh lebih sepi saat aku dan adikku mempunyai jadwal berbuka puasa di luar yang sama, atau saat aku atau adikku mempunyai jadwal berbuka puasa di luar dan ayahku belum pulang kerja. Masing-masing dari kami merasakan kesepian saat harus berbuka puasa seorang diri, tanpa ibu, tanpa anggota keluarga lainnya.

Untuk setiap orang yang mengalami hal sama denganku, walaupun merasa kesepian, merasa sedih, dan merasa iri karena tidak punya ibu saat Ramadan, kita harus tetap menjalani hidup seperti biasanya dengan perasaan yang gembira. Kita harus merayakan Ramadan dengan hati yang senang, bersyukur karena masih mempunyai ayah yang hebat karena bisa merangkap menjadi ibu untuk kita. Berterima kasihlah pada ayah dan pada Tuhan karena masih memiliki seorang ayah, walaupun tidak ada seorang ibu.

Penulis              : Sri Mela Yuantiva

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *