Ramadan Kali Ini Tanpa Ayah di Sisi

19 Mei 2019 / 23:01 WIB Dibaca sebanyak: 175 kali 1 Komentar

Sumber foto: Alimancenter.com

Ramadan bulan yang penuh berkah dan keistimewaannya. Karena tak ada bulan yang sebaik Ramadan, hanya di bulan ini orang miskin sejahtera, orang kaya menjadi dermawan, dan masjid menjadi tempat nongkrong yang paling asyik sambil melantunkan ayat-ayat suci Alquran sebagai asupan jiwa raga.

Berbicara soal masjid, jadi teringat kisah seorang perempuan aktivis kampus di salah satu Politeknik di Jakarta. Ia tak pernah mengeluh, apalagi untuk mengizinkan butiran mutiara jatuh dari mata indahnya itu. Senyumnya selalu terpancar kepada siapapun yang ia temui di jalan, ibarat lilin yang suka membagikan cahayanya ke setiap orang tanpa memikirkan dirinya sakit meleleh oleh api yang panas.

Tiga hari yang lalu, Kamis (16/05) aku bertemu denganya di masjid kampus. Ia memang suka sekali dengan masjid, baginya masjid adalah tempat ternyaman. Apalagi, di bulan yang mulia ini ia selalu menyempatkan waktunya untuk membaca Alquran.

Saat memasuki pintu masjid yang terbuka lebar, pandanganku langsung tertuju pada perempuan berkerudung panjang berwarna cokelat muda. Ia duduk di bagian belakang masjid dengan menyenderkan tubuhnya ke tembok bersama dengan beberapa teman lainnya. Terlihat di atas kedua belah telapak tangannya  sedang memegang Alqur’anul Karim.

Aku mendekat padanya dan mengucapkan, “Assalamua’alaikum,” dengan lembut ia membalas salam yang menjadi penghubung perdamaian dalam umat Islam, “Wa’alaikumssalam,” dan mengembanglah senyum di bibirnya.

Kantung matanya yang tebal dan kecokelatan seperti menyampaikan pesan bahwa perjuangan memang tidak mudah. Butuh pengorbanan, salah satunya mengorbankan waktu tidur untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum terselesaikan ditambah dengan tugas sebagai organisatoris.

Seperti biasa ia selalu menanyakan kabar pada siapapun yang ditemuinya termasuk aku. Dalam hati, aku bersyukur Allah telah menurunkan bidadari tanpa sayap yang selalu mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan. Begitu sejuk kata-kata yang ia keluarkan ditambah dengan senyuman sebagai pemanis isi pembicaraan.

Tak lama ia bicara, tiba-tiba raut wajahnya berubah sekejap seperti terdapat badai dan petir dalam dirinya yang tiba-tiba menyerang. Sosok yang tak pandai mengeluh itu akhirnya menunjukkan jati dirinya sebagai manusia. Pada akhirnya ia mengizinkan butiran mutiara jatuh perlahan membasahi pipinya.

Air mata yang mulai tidak terkendali jatuh secara terus menerus dan tanpa mempedulikan lagi izin dari tuan rumah bermata indah itu. Aku dan beberapa teman lainnya semakin mendekat sampai tak ada jarak diantara kami. Ku pegang erat tangan kanannya sambil mengelus-ngelus secara perlahan. Lalu, kembaliku perhatikan wajahnya yang dari tadi terus membawa pesan duka dengan aliran air yang tak kunjung henti.

Mulailah ia bercerita dengan nada pelan dan wajah sedikit menunduk.

***

Tinggal dalam keluarga yang sederhana tidak membuatnya berputus asa, justru ia tumbuh menjadi sosok perempuan tangguh dan tak mudah mengeluh. Masa kecilnya ia habiskan dengan bermain bersama botol-botol plastik yang diambil oleh orang tuanya dari pinggir jalanan. Perempuan yang memakai gamis cokelat muda yang senada dengan kerudungnya itu terus bercerita didampingi air mata.

Setelah beberapa menit bercerita, kami bergeming pada satu kalimat yang ia ucapkan. Kalimat yang sederhana tapi sangat berat untuk bisa diterima. Aku dan beberapa teman yang lain spontan melihat dengan serius ke arahnya. Dengan mata yang masih penuh dengan air, ia melanjutkan ceritanya itu sambil sesekali mengusap pipinya yang telanjur basah.

Perempuan tegar yang jarang mengeluh itu, menceritakan kepahitan hidupnya dari awal hingga puncaknya yang ia rasakan saat ini. Dan terungkaplah siapa sosok hebat dibalik perempuan kuat dan lemah lembut tersebut, yaitu Ibu.

Ia bercerita tentang ibunya dengan emosi yang meluap-luap. Tangisan yang ia izinkan itu semakin deras alirannya. Menurutnya Ibu adalah sosok yang tegar dalam menjalani kehidupan, walau belakangan ini ia sering melakukan semua itu sendirian. Sosok Ibu juga yang menggendongnya saat sedang mencari botol di pinggir jalan ketika usianya belum mencapai 5 tahun.

Dan kini mereka berdua beserta 4 adiknya harus bisa bertahan hidup seadanya.

Katanya Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan, tetapi tidak demikian dengannya. Baginya sosok Ayah adalah patah hati pertama dalam hidupnya. Yang seharusnya ia merasakan belaian lembut dari tangan sang ayah, tetapi jarang sekali ia dapatkan. Bahkan saat dilahirkan ke dunia pun kumandang azan sang Ayah tak pernah sampai ke telinga mungilnya.

Tidak hanya ia, adik pertamanya pun lahir tanpa diazankan oleh sang pemimpin keluarga yang pada akhirnya diazankan oleh kerabat yang lain.

Meski begitu, ia tidak pernah benci kepada ayahnya, justru ia mempunyai cita-cita yang mulia, yaitu menjadi seorang penghafal Alquran agar dosa kedua orang tuanya dapat terampuni oleh Allah dan kelak mereka dapat berkumpul di surga-Nya.

Begitulah kisah perempuan itu yang bernama Sari, memang penuh dengan lika-liku kehidupan.

Di bulan Ramadan yang penuh dengan rahmat dan ampunannya, ia hanya bisa berharap dapat berkumpul saat berbuka puasa dan sahur bersama dengan Ayah. Ia hanya tak ingin adik bontotnya yang berusia dua tahun merasa kehilangan sosok ayah yang kemungkinan besar beberapa tahun ke depan tidak bisa kembali ke rumah, dan tidak bisa lagi bertegur sapa dengan anak dan istrinya.

Sari hanya khawatir ketika adiknya ingin bertemu dengan sang ayah tapi dalam kondisi yang memilukan. Kini, ia, ibu, dan keempat adiknya hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua pada Sang Maha Kuasa serta belajar memaafkan keadaan sang ayah yang sudah berkali-kali masuk dalam jeruji besi. (Feature Olah Rasa/Anita Rahim/ PNJ)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *