“Pahlawan dan Cinta Pertama”

14 Mei 2019 / 18:12 WIB Dibaca sebanyak: 114 kali Tulis komentar

“Seorang ayah tak akan begitu tampak cintanya, ia selalu menyembunyikan cintanya di balik kelembutan Ibu. Rindunya senantiasa terpendam di balik ketegasannya,” kutipan dari buku Ayah, Pemilik Cinta yang Terlupakan.

MEMANG benar, biasanya, di balik pertanyaan seorang Ibu, terselip kekhawatiran seorang Ayah. Ayah memang selalu begitu.

Biasanya anak perempuan dekat dengan Ayah, karena baginya Ayah adalah cinta pertamanya. Laki-laki pertama yang ia lihat di muka bumi, juga laki-laki yang menjadi contoh atas segala hal.

Menjadi kepala keluarga, seorang Ayah biasanya mempunyai watak yang keras dan tegas. Memang terkadang aku menganggapnya menyebalkan, tapi Ayah lebih tahu dan berpengalaman atas segala hal. Ia tak ingin aku menyesal kelak.

Ketika sedang mengerjakan tugas, waktu itu menunjukkan pukul 23.00 WIB, pintu rumahku diketuk. Ketika kubuka, ternyata Ayah baru pulang dari bekerja.

Seperti biasa, ia selalu meminta kopi panas tanpa gula. “Bagaimana kuliah hari ini?” tanyanya membuka obrolan. Aku hanya menjawab seadanya, karena pikiranku sedang berada di tugas kuliah yang menumpuk.

Lalu aku pergi ke kamar dan melanjutkan mengerjakan tugas. Ayah pergi ke ruang keluarga dan menonton TV.

Ketika hendak mengambil minum di dapur, aku melihat Ayah tertidur di ruang keluarga dengan beralaskan tikar. Kupandangi wajahnya sebentar, tak terasa air mata yang ada di pelupuk mataku sudah menggenang.

Melihatnya semakin hari semakin menua, aku tak tega. Melihat kerutan di matanya yang semakin tergambar jelas, membuat tenggorokanku tercekat.

Aku membayangkan bagaimana lelahnya ia bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki olehnya, demi keluarga.

Rambutnya yang dulu hitam legam, sekarang mulai memutih. Bahunya yang dulu kokoh dan lebar, sekarang mulai membungkuk. Tetapi senyumnya tidak pernah memudar dari bibirnya, walaupun wajahnya mengkerut karena lelah.

Bekerja dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Sebagai kontraktor, Ayah memang jarang berada di rumah. Ia harus selalu mengawasi proyek yang sedang dikerjakannya.

Meski begitu, ia selalu menyempatkan menelefon untuk menanyakan hal-hal kecil, seperti sudah makan atau belum, sudah shalat atau belum, kuliah hari ini bagaimana, dan lain-lain. Ia selalu punya cara sendiri untuk mendekatkan diri dengan anak-anaknya.

Namun ketika ia sedang marah atau kecewa, Ayah hanya berdiam diri. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya yang selalu tersenyum. Ia selalu menyampaikan kekesalannya kepada Ibu, karena takut perkataannya akan melukaiku. Ayah sangat menjaga perasaan anak-anaknya, tanpa diminta.

Sekali lagi, kupandangi lekat-lekat wajahnya, aku percaya bahwa sayangnya sejati dibalik kekerasannya. Aku tidak ingin membuatnya kecewa.

Aku mengucap syukur kepada tuhan sudah diberikan pelindung seperti Ayah. Terima kasih, Ayah, atas cinta yang tak kau ucapkan, atas sayang yang tak kau umbar, atas khawatir yang kau sembunyikan. Aku sayang Ayah. (Penulis: Shafa Tasha Fadhila/ mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *