Nasib Orangutan Kembali Terancam

18 Mei 2019 / 19:54 WIB Dibaca sebanyak: 239 kali Tulis komentar

Poster Film documenter tentang Orangutan Tapanuli oleh Now or Never Film

Orangutan juga berhak untuk hidup dan memiliki tempat tinggal atau habitat asli, yaitu hutan. Kehadiran Orangutan Tapanuli tengah terusik akibat hadirnya mega proyek PLTA Batang Toru yang mengakibatkan pembebasan lahan tempat mereka tinggal.

PLTA Batang Toru merupakan mega proyek listrik nasional 35.000 MW adalah sebuah kemajuan yang mengalami dilema permasalahan lingkungan dan orangutan. Pro kontra pembangunan PLTA Batang Toru terus bergejolak. Ada dampak positif bagi warga dengan pembangunan proyek berkapasitas 35.000 MW tersebut. Namun, dampak negatif PLTA tersebut juga tidak kecil karena lingkungan dan spesies orangutan Tapanuli jadi taruhannya.

Seperti memakan buah simalakama bagi pemerintah dan pengembang proyek PLTA Batang Toru, yaitu PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE). Para pecinta lingkungan dan binatang endemik tentunya tidak akan tinggal diam, karena mega proyek ini dinilai sangat merugikan lingkungan, dan spesies endemik orangutan Tapanuli. Disisi lain, keinginan pemerintah agar masyarakat Sumatera Utara dapat menikmati listrik secara menyeluruh, dan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat tidak dapat dihiraukan.

Pembangunan sebuah proyek industri tersebut memang tidak selalu menguntungkan karena ada beberapa dampak negatif yang merugikan, antara lain masyarakat atau makhluk hidup lainnya seperti flora dan fauna endemik dari ekosistem Batang Toru.

Dampak negatif dari pembangunan PLTA bukan hanya dialami manusia, tetapi juga spesies endemik dan paling langka di dunia yakni orangutan Tapanuli. Pasalnya habitat asli orangutan Tapanuli akan hilang dan ekosistem mereka dalam mencari makanan juga pasti akan berkurang. Hal ini tentunya dapat mengancam populasi dari orangutan Tapanuli sendiri, yang sampai saat ini hanya kurang dari 800 orangutan Tapanuli yang tersisa.

Orangutan Butuh Pohon
Pembukaan lahan yang dilakukan untuk PLTA Batang Toru membuat habitat dan populasi orangutan terancam punah akibat perubahan lingkungan, bisa karena habitatnya menyusut oleh permukiman penduduk dan pembukaan lahan dalam skala besar. Mereka hidup di puncak pepohonan, yang menjadi sumber makanan utama mereka. PLTA dibangun di ketinggian 430-450 mdpl sementara habitat orangutan biasanya di ketinggian 600-800 mdpl. PT NSHE juga membuat jembatan arboreal dari kabel untuk memfasilitasi hewan arboreal, salah satunya orangutan, yang kesulitan mencari makan akibat pembukaan lahan hutan. Hal ini, tentunya bukanlah yang orangutan butuhkan. Mereka membutuhkan pohon untuk tempat tinggalnya, dan tempatnya bermain, hingga mencari sumber makanan.

Pemerintah seharusnya lebih bersikap tegas mengenai masalah ini. Dikarenakan masalah ini tak hanya berdampak negatif akan tetapi juga berdampak positif demi kemajuan bangsa Indonesia. Suatu kemajuan diperlukan pengorbanan, namun hal ini tak berarti pemerintah tidak mementingkan lingkungan. Pemerintah harus mencari alternatif lain, seperti tenaga surya atau panas bumi yang dapat menjadi sumber lain disana. Tak perlu pembukaan lahan, tak perlu mengorbankan lingkungan dan orangutan. (BRW)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *