Mengambil Hikmah di Bulan Suci Ramadhan

14 Mei 2019 / 10:18 WIB Dibaca sebanyak: 248 kali 1 Komentar

Kala orang-orang sedang terlelap, suara ayam berkokok pun belum terdengar. Namun satu rumah di sudut gang, seorang ibu sudah berada di dapurnya mempersiapkan
kebutuhan untuk berkerja di pagi hari.
Ibu yang mempunyai empat orang anak ini, sejak 1998 harus merasakan yang namanya berjuang untuk hidup. Demi membantu sang suami yang hanya seorang supir.

Sejak saat itu ia bersama suaminya berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup keempat anaknya. Emak Atih sapaan akrabnya, ia adalah penjual nasi uduk dan gorengan. Kala orang-orang tengah terlelap mimpi di kasur empuknya, ia sudah di dapur untuk mempersiapkan barang dagangan.

Dengan segala keterbatasan ia tidak pernah menunjukan rasa lelah di hadapan anak-anaknya. Ia selalu gigih dan menampakkan senyum keikhlasan pada anaknya.

Ia tidak ingin membuat anak-anaknya kecewa, ketika dirinya tidak bisa memenuhi segala kebutuhan keempat anaknya. Ia pula mengaku bahwa keluh kesah dari anak-anaknya lah yang membuat ia semangat berkerja meski harus mengabaikan kesehatan.

Sosok Atih di mata anak-anaknya adalah ibu yang luar biasa. Ada begitu banyak perjuangan yang dilakukan olehnya dengan keringat, pengorbanan, kekuatan dan kasih sayang serta air mata.

Perkerjaan inilah yang membuat keempat anaknya kini sudah berkerja dan sekarang tidak tinggal bersamanya lagi. Terakhir, di awal tahun lalu anak bungsunya menikah
dan tinggal bersama suaminya di Jakarta.

Kini Atih hanya tinggal berdua dengan sang suami, di rumah yang sejak dulu ditinggali oleh ia, suami dan keempat anaknya.

Ia tetap berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama suaminya. Hingga akhirnya ia pun berjuang sendirian, karena sang suami harus menepikan pekerjaannya dengan alasan kesehatan yang terus menurun.
Bila ramadhan tahun lalu ia dapat berjualan di sore hari untuk menu berbuka puasa.

Bulan ramadhan 2019 ini baginya tidaklah seperti biasanya, karena saat ini ia harus menjaga suaminya yang sedang terbaring sakit.

Karena mengurus sang suami itulah yang membuat ia harus meninggalkan pekerjaannya di bulan yang suci ini. Ia harus menjalani sisa ramadhannya dalam kondisi seperti ini, namun rasa syukur senantiasa terucap dari lisannya.

Disisa waktunya yang senja ini ia tetap setia mendampingi suaminya, dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh sang suami. Terkadang kekecawaan yang ia rasakan hanya dipendam,dan air matalah yang dapat menggambarkan rasa kecewa itu.

Menurutnya kegiatan yang dilakukan saat ini adalah ibadah tambahan di bulan ramadhan “Meski saya sudah tak dapat berjualan lagi, Alhamdulillah saya masih bisa berbakti kepada suami. Saya percaya, rezeki bisa datang dari mana aja,” pungkas wanita paruh baya itu sambil tersenyum.  (Penulis: Ahmad Fatih Qadri/Politeknik Negeri Jakarta)

 

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *