Lantunan Dari Surau Tak Lagi Terdengar

15 Mei 2019 / 07:46 WIB Dibaca sebanyak: 251 kali Tulis komentar

Sekali lagi, para malaikat yang diperintahkan turun untuk mencatat amal hamba-Nya yang mengerjakan salat malam disambut lantunan merdu selawat dan dzikir  dari surau yang ada di tengah – tengah permukiman oleh pria senja yang berbau wangi khas bunga kasturi.

Penulis:  Irvan Irama Sayhbana dari Politeknik Negeri Jakarta Program Studi Jurnalistik

Bang Amen, begitulah orang – orang memanggilnya. Setiap menjelang subuh selalu berangkat seorang diri menuju masjid untuk melantunkan selawat dan dzikir, terkadang, mengingatkan bahwa dunia hanya sementara. Memecahkan kenyamanan sunyi malam dengan niat mengajak siapapun yang mendengarnya untuk kembali mengingat-Nya.

Pria yang memiliki 5 anak ini dalam keseharianya menjual nasi uduk untuk sarapan para pencari nafkah. Dilanjut siangnya ia menjual berbagai macam makanan, banyak pedagang – pedagang yang singgah di rumah makanya, beberapa ada yang sekadar istirahat ada juga yang memanjakan perutnya.

Ketika malam hari, dengan sepedah tua besar berwarna birunya, ia kayuh menuju ujung jalan untuk berbelanja kebutuhan daganganya besok. Kemudian pulang membawa beberapa kardus yang penuh isinya, bahkan tali pengikat kardusnya pun harus disambung dengan tali lagi agar isi dari kardus itu tidak berjatuhan.

Namun, kesibukan siang malamnya tidak menjadi penghalang bang Amen untuk selalu beribadah dengan tepat waktu, dan bahkan ia yang selalu datang pertama ke masjid kemudian melantunkan selawat dan dzikirnya, seraya menyuruh orang – orang yang mendengarnya untuk menghentikan aktifitas sejenak dan kembali kepada-Nya.

Ia selalu dihormati oleh tetangga – tetangganya, bahkan ia dianggap sebagai tokoh masyarakat. Siapa saja yang bertemu denganya di jalan, pasti selalu menyapa ditambah dengan senyuman ikhlas. Kepedulian terhadap orang – orang di sekitarnya membuat ia disegani. Lantunannya itulah yang paling diingat.

Namun, subuh kali ini terasa berbeda, terasa ada yang kurang, bahkan ketika salat pun rasanaya tidak lengkap. Tidak ada lagi sambutan kepada para malaikat, tidak ada lagi yang menyuruh orang – orang untuk bangun dari kenyamanan dunia dan kembali kepada-Nya, bahkan mungkin, ayam jantan akan kesiangan untuk menandakan hari sudah pagi.

Lantunan selawat dan dzikirnya sekarang hanya terdengar di kepala bukan di telinga. Meninggalkan sebuah kenangan, meninggalkan orang – orang yang butuh pengingat akhirat dikala kesibukan menyelimuti, meninggalkan dunia ini. Sungguh suasana adzan sekarang begitu sepi.

Beruntunglah orang yang selalu diingat kebaikanya, apalagi kalau bicara tentang kehidupan selanjutnya yang kekal abadi. Beruntung pula orang – orang di sekitarnya yang selalu diingatkan untuk segera mendahulukan yang wajib. Ingin rasanya mempunyai kehidupan sepertinya yang selalu ingat kepada yang lainya demi mencari keberkahan untuk kehidupan selanjutnya.

Andai semua surau memiliki dia, pastilah taman – taman surga ramai dikunjungi, ada yang sekadar untuk beristirahat ada juga yang datang untuk memanjakan suasana hatinya. Tentram sudah segala suasana. (**)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *