Idulfitri Menyatukan yang Jauh Menjadi Dekat

18 Mei 2019 / 17:52 WIB Dibaca sebanyak: 354 kali Tulis komentar

Tak ada yang lebih hangat dari pelukan seorang ibu. Tidak peduli seberapa dewasanya seorang anak, ia akan selalu merindukan pelukan hangat ibunda tercinta. Pelukan hangat, yang selama ini tidak dapat dilakukan, lantaran seorang anak yang berbakti harus mengadu nasib di kota lain agar dapat membahagiakan kedua orang tuanya kelak.

Jarak tidak pernah menghalangi seorang ibu untuk menunjukkan kasih sayangnya. Setiap hari dia tidak pernah lupa mencoba berkomunikasi lewat doa dengan anaknya yang jauh di sana. Mengapa tidak saling berkomunikasi lewat telepon?

Tahun 1987, telepon tidak dimiliki semua orang, melainkan hanya orang-orang ‘kaya’ yang mampu membeli barang langka tersebut. Tahun 1987, ayahku memutuskan untuk mengadu nasib ke ibu kota. Meninggalkan ibunya di Pati, Jawa Tengah.

Tidak pernah ada yang menyuruhnya merantau ke mana pun.

Ayahku lahir tahun 1969 dan telah ditinggal oleh ayahnya tahun 1973. Kepergian sosok ayah sekaligus suami dalam keluarga, mengharuskan ibu dari ayahku harus banting tulang membiayai semua kebutuhan anak-anaknya, dengan segala usaha dan jerih payah.

Hal tersebutlah yang menjadi alasan ayahku untuk mengadu nasib ke ibukota agar tidak menyusahkan ibunya, dan bisa meringankan beban keluarga dengan bekerja.

Hari demi hari, jarak menghalangi hubungan seorang ibu dan anak. Hanya ada satu momen yang dapat mempertemukan mereka. Momen yang dinanti-nanti banyak orang, yaitu momen lebaran Idulfitri.

Momen saat semua orang merindukan kampung halaman, merindukan sanak saudara, dan yang paling penting adalah jumpa kedua orang tua.

Lebaran Idulfitri menyatukan yang jauh menjadi dekat.

Ayahku selalu mudik ke Pati, Jawa Tengah satu tahun sekali. Sosok ibu yang ditinggalkan oleh ayahku tidak pernah mengharapkan apa apa dari anak lakinya yang sudah dewasa itu. Kedatangan ayahku sudah cukup baginya. Melihat ayahku sehat dan bahagia adalah kado terindah tiap lebaran Idulfitri tiba.

Tahun demi tahun hingga ayahku menikah dan mempunyai tiga orang anak, dirinya tetap rutin pulang ke kampung halaman. Segala transportasi sudah pernah dicoba agar sampai ke Pati, Jawa Tengah. Motor, mobil, kereta, hingga bus malam. Hal tersebut dilakukan untuk menemui ibunda tercinta.

Ayahku bukan seorang yang pintar dalam mengungkapkan kasih sayang dalam bentuk kata-kata. Dia hanya mampu mengungkapkannya dengan cara mencium tangan ibunya menunduk 90 derajat selama kurang lebih 10 detik, sambil bertanya kabar kepada ibunya.

Cara ayahku bersalaman dengan ibunya tersebut, menyiratkan adanya kerinduan yang mendalam, yang selama ini dipendam dan tidak mampu ia ungkapkan dengan rangkaian kata.

(Firda Zaimmatul Mufarikha, Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *