Eksistensi Piringan Hitam

22 Juni 2019 / 21:16 WIB Dibaca sebanyak: 240 kali 1 Komentar

Vinyl atau piringan hitam sudah tidak asing lagi bagi para penikmat musik pada era 80’-90’ an. Walaupun permusikan di Indonesia bahkan dunia berkembang, namun keeksistensian piringan hitam tidak pernah mati. Mulai dari yang tua hingga muda-mudi gemar mendengarkan musik melalui vinyl atau piringan hitam.

Seperti halnya di Pasar Santa, Kebayoran Baru – Jakarta, saya beserta rekan- rekan berkeliling ke pasar tersebut yang terbilang sebagai pasar modern. Terdapat beberapa kios yang menjual piringan hitam dengan berbagai koleksi, salah satunya saya mengunjungi toko bernama Laidback Blues Record Store. Toko yang berdiri sejak 2012 ini mengoleksi berbagai macam piringan hitam dari band-band terdahulu hingga band-band masa kini. ”toko ini punya koleksi vinyl dengan berbagai genre,” ucap Haris penjaga toko Laidback Blues Record Store.

Selain melihat jajaran koleksi vinyl, saya juga melihat turntable yang tersedia di toko tersebut. Turntable merupakan alat pemutar piringan hitam. Bagi para calon pembeli dapat mencoba vinyl nya untuk diputar terlebih dahulu di turntable yang tersedia. Haris juga mengatakan bahwa yang mampir ke toko nya bukan hanya orang tua bahkan anak muda dan SMP mampir kesini. “Gak cuma orangtua sih,malah  kebanyakan anak muda yang beli. Ada yang masih SMP (Sekolah Menengah Pertama) juga pada suka sama vinyl,” ujar Haris.

Haris menambahkan alasan anak muda menyukai dan membeli vinyl karena suaranya lebih enak didengar dan terasa lebih orisinal. “Ada kebanggaan tersendiri sih kalo dengerin musik dari piringan hitam, lebih halus dan orisinal.”

Tidak hanya melihat-lihat, disana saya mempraktikan bagaimana cara memutar piringan hitam dengan turntable. Saat musiknya sudah diputar, memang benar apa yang dikatakan Haris bahwa suara musiknya terdengar begitu asik dan nyaman didengar ditelinga. Konsumen yang datang ke toko tersebut tergantung pada setiap harinya. “ Memang kalau disini ramainya di hari libur, sabtu minggu tuh udah pasti ramai, kalau hari biasa sih sepi malah ada beberapa kios yang tutup,” Ucap Haris.

Mesti terbilang jadul, vinyl  tetap menjadi pilihan untuk mendengarkan musik secara orisinal, sebab vinyl tak mengenal usia untuk menjamah para penikmat musik di tanah air ini.

Oleh : Michael Alementa/ Politeknik Negeri Jakarta

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *