Dugdag Keraton Kasepuhan, Tradisi Sakral Sambut Ramadan di Kota Cirebon

KOTA CIREBON | BBCOM – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Keraton Kasepuhan Cirebon, kembali menggelar tradisi Dugdag, sebuah ritual tahunan yang sarat makna religius dan kultural. Tradisi ini ditandai dengan pemukulan bedug sebagai simbol pemberitahuan sekaligus ungkapan suka cita umat Islam dalam menyongsong bulan penuh berkah dan ampunan.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, PR Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan Ramadan selalu disambut dengan rasa syukur dan kegembiraan, baik oleh keluarga besar keraton maupun masyarakat Cirebon.

“Kita sebagai umat Muslim menyambut datangnya bulan suci dengan penuh gembira. Di Keraton Kasepuhan ada tradisi khas, yakni pemukulan bedug sebagai penanda. Masyarakat juga turut menyemarakkan dengan pawai obor keliling sebagai simbol kebersamaan dalam menyambut Ramadan,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama bulan Ramadan pihak keraton secara rutin menggelar berbagai kegiatan keagamaan. Di antaranya tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih yang dilaksanakan di Langgar Alit hingga akhir Ramadan.

“Alhamdulillah, setiap bulan puasa kami mengadakan tadarusan atau mengaji setelah salat tarawih di Langgar Alit sampai selesai hingga penghujung Ramadan,” tambahnya.

Sementara itu, Penghulu Masjid Agung Sang Ciptarasa, KH Jumhur, menjelaskan bahwa pemukulan bedug dalam tradisi Dugdag memiliki makna filosofis yang mendalam.

Menurutnya, pemukulan bedug menjadi tanda kepada masyarakat bahwa keesokan harinya umat Islam mulai melaksanakan ibadah puasa. Tradisi tersebut dilakukan menjelang waktu magrib karena dalam penanggalan Hijriah, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam.

“Ketika matahari terbenam, itulah masuk tanggal satu Ramadan. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kita akan memasuki bulan suci,” jelasnya.

Ia menegaskan, penetapan awal Ramadan tetap berpedoman pada ajaran Rasulullah SAW, yakni melalui rukyatul hilal atau melihat hilal.

“Kita mengikuti tuntunan Rasul, berpuasalah ketika melihat hilal dan berhari raya ketika melihatnya. Semua yang dilakukan di keraton berlandaskan Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, KH Jumhur memaparkan filosofi tiga rangkaian tabuhan dalam tradisi Dugdag. Tabuhan pertama melambangkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Tabuhan kedua dimaknai sebagai seruan pengagungan kepada Allah. Sedangkan tabuhan ketiga mencerminkan tasbih dan ungkapan syukur, seperti Subhanallah dan Alhamdulillah.

Tradisi Dugdag tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga warisan budaya yang mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat identitas spiritual masyarakat Cirebon dalam menyambut Ramadan dari tahun ke tahun. (bud/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *