Dawet Hitam Asli Kutoarjo

24 Juni 2019 / 08:37 WIB Dibaca sebanyak: 166 kali Tulis komentar

Berbagai minuman khas Indonesia yang berwarna hitam sangat banyak ditemukan di setiap penjuru daerah yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah minuman khas Kutoarjo yaitu Dawet Hitam yang sampai kini masih tren dikalangan jajanan yang ada di setiap daerah khususnya di DKI Jakarta.

Dawet ini yang biasa kita temukan yaitu berwarna hijau, tetapi Dawet yang satu ini berbeda karena dia mempunyai warna hitam yang dibuat asli dari olahan sagu aren dan tepung oman (tangkai padi) maka jadilah dawet tersebut menjadi berwarna hitam.

Suparyono adalah pedagang minuman es dawet hitam yang berjualan di pinggir jalan Banjir Kanal Timur (BKT) yang berlokasi di daerah Cipinang Indah, Jakarta Timur. Suparyono berusia 65 tahun dan sudah memulai berdagang es dawet hitam ini selama 5 tahun. Es dawet hitam Suparyono menyediakan pesanan jika ada yang ingin memesan untuk acara-acara seperti pernikahan, sunatan, lamaran, dll.

Suparyono sempat menjadi asisten supervisor di salah satu hotel dearah Glodok, Jakarta Barat. Hotel tersebut saat ini sudah tidak ada karena telah di hancurkan saat tragedi kerusuhan 13-14 Mei 1998. Suparyono bertempat tinggal di daerah pedalaman dekat tempat ia berjualan. “saya sudah tidak punya tempat tinggal, dan saya hanya ngontrak di belakang bersama gerobak saya” kata Suparyono.

Suparyono sudah lama bercerai dengan mantan istrinya sejak tragedi kerusuhan tersebut. “Saat tragedy 98 itu adalah dimana detik-detik permasalahan kita dimulai”kata Suparyono. Ia mempunyai 4 orang anak yaitu 3 laki-laki dan 1 perempuan. Semunya sudah berkeluarga dan terkadang anaknya menemui Suparyono untuk menengokinya.

Suparyono berjualan es dawet hitam mulai pukul 3 sore hingga pukul 10 malam. Penghasilan Suparyono tidak menentu, tetapi cukup untuk menutupi kebutuhannya agar bisa berdagang kembali esok hari. Suparyono dikenakan bayaran untuk memakai lapak di daerah tersebut yaitu Rp5000 untuk satu hari dan Rp5000 untuk setiap minggu. (M.Fariz Nur Iskandar/Politeknik Negeri Jakarta)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *