oleh

Benarkah “Pedamaran Adalah Benteng Terakhir Dari Budaya Suku Penesak”

PEDAMARAN | BBCOM | Sebelum menggelar acara “Sedekah Besak” yang akan di selenggarakan tanggal 15 September 2022 mendatang,  pada Kamis 12 Agustus  kemarin Tim Penyusun Buku  Sejarah Marga Danau berkunjung ke Pemangku Adat Tanjung Batu.

Kunjungan tim pemuyusun buku sejarah marga danau yang di Ketua oleh Ediman Kalung ini diterima langsung oleh Ketua Adat Tanjung Batu Andy dan Saibi tokoh masyarakat setempat

Listiadi Martin, salah seorang dari tim kerja penyusun buku marga danau, merasa senang atas penerimaan tuan rumah yang begitu antusias menerima kunjungan rombongan dari Pedamaran ini. “Terungkap dalam obrolan bahwa Tanjung Batu dan Pedamaran masih ada hubungan tali persaudaraan. Logat bicaranya saja ada kemiripan terutama dari tata bahasanya, “kata Listiadi

Setelah berkunjung ke Tanjung Batu, ujar Listiadi, rombongan tim kerja penyusun buku sejarah marga danau ini, dilanjutkan Ziarah ke Makam Usang Rimau di Desa Tanjung Dayang Kabupaten Ogan Ilir (OI)

Listiadi menambahkan setelah ziarah ke tokoh legendaris Usang Rimau, yaitu ditemukan sebuah kutipan bahwa “PEDAMARAN ADALAH BENTENG TERAKHIR DARI BUDAYA SUKU PENESAK” (Margani (Arkeolog) 2022, Mojokerta, halaman 15 Suku Penesak dan Penyebarannya),”katanya seperti dikutik dari pelitaonline.co.id

Seminar rembug adat yang rencananya akan digelar bulan depan ini, sungguh mendapat respon positif dari berbagai elemen masyarakat rantau yang ada diseluruh Indonesia.

Sebut saja Ir. Imsar, salah seorang perantau asli Pedamaran yang berada di Kalimantan Timur, menyambut baik gelaran acara rembug adat ini.

Memurut Imsar kegiatan seminar rembug adat Marga Danau sebuah pelurusan sejarah adat istiadat, itu sebuah nilai yang mahal harganya

“Ini menjadi inisiasi sejarah desa Pedamaran. Semoga melalui kegiatan seminar  yang diinisiasi oleh putra-putra Pedamaran tersebut setidaknya kita akan mengetahui asal usul nenek moyang kita Pedamaran,”kata Imsar

Syukur-syukur kalau sampai diketahui hari jadinya Kota Tikar. Sehingga  kedepannya muda-mudahan kita dapat merayakan Anniversary kota Tikar Pedamaran dan sekalian dijadikan event menampilkan adat istiadat

Pedamaran yang sekarang mulai memudar sehingga adat istiadat Pedamaran dapat terlestarikan. Bagaimana orang luar negeri datang ke Indonesia hanya mau melihat alam Indinesia dan adat istiadatnya. “Sekali lagi semoga rembug adat ini menjadi inisiasi/momentum yang bagus utk meluruskan/memastikan sejarah Kota Pedamaran dan melestarikan adat istuadat Kota Tikar,”tegasnya.

Apa yang disampaikan Imsar, senada dengan Arifin Nangling, perantau Pedamaran di DKI Jakarta yang juga Pensiunan ASN Kementerian Perindustrian ini sangat mendukung terlaksananya kegiatan seminar rembuk adat marga danau ini.

Sebagai warga masyarakat Pedamaran yang sudah lama merantau di Ibu Kota berkeinginan juga untuk mengetahui sejarah Pedamaran dan Marga Danau

“Untuk aset yang Ada di Kecamatan Pedamaran,  “langkah selanjutnya  untuk cari tau terutama masalah legalitas dan keabsahannya,” kata Arifin yang dikenal Ebit G Ade nya Pedamaran ini.  (pani)

Komentar