Menanam Harapan dari Rumpin: Kiprah Perempuan Rimbawan Menjaga Bumi

BOGOR | BBCOM — Pagi itu, suasana di Persemaian Rumpin, Kabupaten Bogor, terasa berbeda. Di bawah langit yang cerah, deretan bibit tanaman tersusun rapi, sementara sejumlah perempuan tampak sibuk menyiapkan alat tanam. Mereka bukan sekadar datang untuk seremonial, melainkan membawa semangat merawat bumi.

Dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan ke-43, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Kehutanan menggelar kegiatan penanaman pohon, Selasa (14/4/2026). Namun, lebih dari sekadar menanam, kegiatan ini menjadi ruang belajar, berbagi, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam menjaga lingkungan.

Satu per satu bibit ditanam ke dalam tanah. Tangan-tangan yang biasanya berkutat dengan urusan rumah tangga dan organisasi, hari itu bersentuhan langsung dengan alam. Ada harapan yang disemai, ada masa depan yang dititipkan pada setiap lubang tanam.

Kepala BPDAS Citarum Ciliwung, Heru Permana, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya seremonial, tetapi juga edukatif. Para peserta diajak mempraktikkan pembuatan lubang biopori dan pengolahan Bio Eco Enzym—dua langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

“Dari hal kecil seperti biopori dan pengolahan sampah organik, kita bisa memberikan dampak besar bagi lingkungan,” ujarnya.

Di sela kegiatan, suasana semakin hangat dengan digelarnya syukuran berdirinya Kantin Semai Lestari. Kantin ini bukan sekadar tempat beristirahat, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan persemaian.

Kehadiran para tokoh perempuan di lingkungan Kementerian Kehutanan menambah makna kegiatan ini. Penasihat DWP Nurlaili Raja Antoni, Wakil Penasihat Gina Rohmat Marzuki, serta Ketua DWP Novilia Mahfudz tampak berbaur bersama anggota, menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Bagi Nurlaili, kegiatan ini bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran.

“Ini adalah wujud nyata sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Perempuan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran tersebut, dimulai dari lingkungan terdekat,” tuturnya.

Semangat yang sama juga disampaikan Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) BPDAS Citarum Ciliwung, Bagus Prakoso. Ia menegaskan bahwa menjaga hutan bukanlah tugas sesaat, melainkan komitmen jangka panjang.

“Pelestarian lingkungan harus terus dilakukan. Apa yang kita tanam hari ini, akan menjadi warisan bagi generasi mendatang,” katanya.

Di akhir kegiatan, tanah yang telah ditanami bibit tampak lebih dari sekadar lahan. Ia menjadi simbol harapan—bahwa dengan kebersamaan, kepedulian, dan peran aktif perempuan, masa depan lingkungan yang lebih lestari bukanlah hal yang mustahil.

Dari Rumpin, harapan itu tumbuh. Perlahan, namun pasti. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *