oleh

Video Liputan Vaksin Anak, Wartawan tvOne Diminta Dihapus oleh Guru SDN 1 Kota Banjar

BANJAR | BBCOM | Gebyar vaksinasi Covid 19 untuk anak Kota Banjar, Jawa Barat di awali dari SD negeri 1 Kota Banjar, pada hari ini Senin (20/12/21)

Namun sangat sayang sekali, gebyar vaksinasi ini dicederai oleh ulah oknum salah satu guru di SD ( asep novi), hal tersebut terjadi ketika Wartawan tvOne Aditia Triwahyudi yang sedang melakukan liputan tiba-tiba ditegur dengan alasan tidak ada izin.

Oknum guru itu pun sempat sempatnya meminta kepada wartawan tvOne untuk segera menghapus video hasil liputan.

Aditya mengatakan,”Saat sedang mengambil gambar tiba tiba saya di tegur oleh seorang guru, bahasanya juga sangat kasar, Anda dari mana? Tolong jangan seenaknya liputan karena harus ada izin,”

Aditia triwahyudi menjelaskan, setelah insiden tersebut dirinya mengaku meminta maaf, bahkan ia pun lalu pergi meninggalkan ruang kelas. Namun ia masih membuntuti wartawan tvOne ke lorong sekolah.

Ketika mendekat, lalu ia berkata meminta untuk menghapus video hasil liputan di dalam kelas.

“Video yang tadi tolong dihapus,” pinta oknum guru tadi.

Dikatakan Adit, bahwa dirinya sudah mencoba memberi keterangan terkait izin liputan dari pihak terkait. Bahkan informasi gebyar vaksinasi anak tersebut disebar oleh petugas Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Banjar melalui group Whatsapp pada Minggu malam (19/12/21).

Sedianya acara gebyar vaksinasi belum dimulai dan peliputan yang dilakukan oleh beberapa wartawan sebelumnya sudah mendapatkan izin dari pihak terkait seperti Dinas Pendidikan setempat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjar, H.Lukman meminta maaf terkait adanya insiden tersebut,

“Saya sangat menyayangkan atas apa yang dilakukan oleh oknum guru tadi, kegiatan vaksin itu tidak pernah di tutup tutupi” Katanya

Terkait ulah oknum guru SDN 1 Banjar itu, kepala sekolah SDN 1 Kota Banjar, Ika Sartika memohon maaf kepada awak media. Ika menjelaskan oknum guru itu khawatir terjadi liputan yang negatif mengingat adanya kerumunan siswa saat mengisi formulir.

“Guru itu hanya khawatir dan kaget melihat ada wartawan meliput ke sekolah,” jelas Ika.(D/rls)

Komentar