Tertekan dan Bungkam, Waspadai Gangguan Kesehatan Mental

17 Juni 2019 / 22:31 WIB Dibaca sebanyak: 673 kali 1 Komentar

Kesehatan mental semakin menjadi bahasan yang menari kuntuk dibahas, ditambah belakangan ini semakin banyak muncul komunitas dan gerakan non-profit yang berkembang, khususnya di daerah kota seperti Jakarta.

Gangguan mental menjadi salah satu yang sulit dipahami karena gejalanya yang kian sulit dipahami, walaupun pada dasarnya gangguan psikis berpengaruh pada gangguan fisik.

Tak sedikit orang yang ‘terlihatmenjalani harinya dengan baik-baik saja, namun sebenarnya mengalami sakit dan tekanan yang luar biasa pada jiwa dan pikirannya. Bukan tanpa sebab, banyak faktor yang dapat memacu hal tersebut.

Penyakit mental baru akan disadari jika orang yang mengalami mengeluarkan reaksi fatal dan diketahui oleh orang di sekitarnya.

Contoh satu kasus yang menjadi sorotan, salah satu mahasiswa semester 5 berinisial IP nyaris mengakhiri hidupnya di rumah kontrakan yang terletak di belakang kampus tempatnya berkuliah.

Rumah kontrakan tersebut terletak di pinggir jalan besar, berukuran 8×10 meter dengan ruang utama dan satu kamartidur yang dibatasi kamar mandi serta dapur.

Beruntung saat menjalankan aksinya sekitar pukul 18.00 waktu setempat, teman IP berinisial DS dan KH datang. DS sebagai saksi dan yang pertama masuk ke rumah kontrakan tersebut tentu kaget bukan kepalang mendapati IP sudah berdiri dengan seutas tali di lehernya. Disusul KH yang langsung membakar tali tersebut dengan korek api.

DS langsung memeluk tubuh IP yang pucat dan berkeringat, tangannya dingin dan basah. DS menuntun IP ke kamar dan belum berani menanyakan banyak hal.

DS sendiri mengerti permasalahan yang sedang dialami IP, yaitu tuntutan program kerja yang pikul sebagai project officer sebuah acara besar. Memang menjadi ketua dan memegang sebuah tanggung jawab besar bukan hal mudah, di samping itu  keadaan mental setiap orang juga tentunya berbeda.

Dilansir dari akun salah satu organisasi non-profit Seribu Tujuan, hal ini dikategorikan sebagai reaksi dari emotional burnout, yaitu perasaan bahwa hidup telah kacau dan sulituntuk termotivasi.

DS menyayangkan IP yang kurang terbuka dengan kondisinya. Faktor kedekatan membuat DS merasa perbedaan dari sikap IP sebelumnya, seperti kurang mengeluh dan menjadi lebih tertutup. Belakangan IP menjadi irit bicara dansulit ditemui, hal ini menjadi hal yang aneh menurut DS, tapiDS tak menaruh curiga tentang kondisi IP.

Mungkin bagi orang yang sedang mengalami keadaan stres bukan hal mudah untuk bicara, namun di sini peran orang sekitar juga sangat dibutuhkan, setidaknya untuk bertanya dan menjadi pendengar. kepekaan kita terhadap orang di sekitar kita ternyata perpengaruh besar.

Sementara menurut CNN Indonesia, hal yang perlu kita lakukan untuk mengangani kasus seperti suicide atau reaksi seseorang untuk menyakiti dirinya sendiri adalah dengan tetap menghubunginya dan menjadi pendengar sekaligus penyemangatnya, selain itu jangan menyepelekan keluhannya, jika diperlukan kita dapat membantu dengan mencari pertolongan dan mengubungi terapis.

Dalam kehidupan ini tentu kita tak akan lepas dari segala macam bentuk permasalahan, namun kembali lagi pada sikapkita dalam menerima hal tersebut. Tentu juga dibutuh kandukungan orang-orang sekitar kita dan semangat dari diri sendiri untuk bisa terus memotivasi dan kuat dalam menghadapi setiap masalah. (Adhita Dian)

Bagikan
Share

1 Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *