Perluas Bisnis, PTPN VIII Buka Lahan Kerja Melalui Parawisata

KAB.BANDUNG I BBCOM I Ciater, Kabupaten Subang, menjadi salah satu wilayah yang menawarkan berbagai keindahan alam dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal mau pun mancanegara.

Kondisi tersebut mendorong PTPN VIII untuk menerima kerjasama optimalisasi aset yang ada di kawasan Kebun Ciater, antara lain dengan D’CASTELLO, THE RANCH, BUKIT RINDU, dan ASTRO (ASEP STROBERI).

Masing-masing tempat wisata itu menawarkan atraksi wisata yang berbeda-berbeda mulai dari restoran, wahana permainan dan banyak lagi. Berbagai tanggapan pun muncul dengan adanya pembangunan tempat wisata khususnya di daerah Ciater dan kawasan PTPN VIII. Ini karena hal itu berdampak positif pada area sekitar tempat wisata .
Demikian diungkapkan Manager D’CASTELLOMugi,Senin
(05/12/2022),

Mugi menambahkan, kerjasama dengan PTPN VIII dapat membuat penyerapan tenaga kerja oleh D’CASTELLO menjadi lebih besar khususnya untuk warga Ciater. “Juga industri pendukung pariwisata lainnya seperti industri kreatif dan kuliner bisa ikut terangkat,” katanya. Bahkan, lanjut Mugi, hal itu akan meningkatkan branding Kabupaten Subang. Karena D’CASTELLO selama ini mengenalkan kepada masyarakat dan para wisatawan bahwa tempat wisata ini berada di Kabupaten Subang, bukan Kabupaten Bandung Barat.

Dinas terkait di Kabupaten Subang pun, kata Mugi, sudah mengakui bahwa keberadaan D’CASTELLO yang baru sekitar setahun ini cukup mendongkrak PAD Kabupaten Subang. Beberapa desa di sekitar D’CASTELLO juga ikut merasakan perkembangan dari pembangunan tempat wisata tersebut. Salah satunya Desa Cisaat.

“Kehadiran tempat wisata baru sangat membantu warga di sini, termasuk anak saya sendiri sudah 1 tahun bekerja di D’CASTELLO dan bisa membantu saya sebagai orang tua. Saya bersyukur karena selain anak saya, teman-temannya juga bisa bekerja di D’CASTELLO.” tutur Ntay Sutarya, warga Desa Cisaat.

Para pengelola wisata lainnya yang juga bekerjasama dengan PTPN VIII, mengungkapkan optimismenya akan perkembangan tempat wisata yang mereka kelola setelah menjalin kerjasama dengan PTPN VIII. pengelola BUKIT RINDU, Fanny. menyebutkan, tempat wisata yang terus berkembang di daerah Ciater telah menggeliatkan masyarakat untuk ikut serta dalam proses pengembangan pariwisata ini.

Ia mengaku ketertarikan mengembangkan BUKIT RINDU, yang sebelumnya merupakan kawasan agrowisata, karena dia melihat spot atau area bukit tersebut sangat baik dengan view landscape yang indah. “Hal itulah yang membuat saya tertarik untuk mengembangkan wisata di area ini. Juga tenaga kerja yang ada di BUKIT RINDU ini berasal dari warga sekitar, karena saya rasa dengan mempekerjakan warga sekitar kita bisa membantu ekonomi masyarakat di sini,” ungkap Fanny.

Selain itu, pihaknya juga berusaha untuk selalu berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat di sekitar BUKIT RINDU. “Kami harap keberadaan tempat wisata BUKIT RINDU ini akan mendorong para wisatawan untuk datang dan menikmati keindahan BUKIT RINDU dan Ciater umumnya,” kata Fanny.

Hal senada disampaikan Manager THE RANCH, yang menawarkan view tempat wisata itu sebagai daya tarik pariwisatanya. Bahkan pihaknya tidak melakukan banyak perubahan area, karena ingin memanfaatkan apa yang sudah ada di sini, termasuk kontur tanah pun tidak dirubah, ini untuk menjaga keaslian alam.

“Kami juga sangat concern terhadap masyarakat di sini. Seperti tenaga kerja, kami ambil dari masyarakat sekitar. Juga untuk pengembangan wahana, kami tidak asal membuat, karena sekali lagi kita tidak mau merusak kontur tanah yang ada dan hanya akan membuat wahana dengan mengikuti kontur tanah awal,” jelas Maanager THE RANCH.

Begitu juga dengan pengelola ASTRO, seperti disampaikan Ujo selaku manager ASTRO bahwa pemilihan area yang sekarang menjadi ASTRO merupakan hasil kajian dari Asep sendiri, karena selain dari sisi bisnisnya, Asep pun ingin membangun fasilitas umum seperti masjid, toilet umum yang dibebaskan untuk semua orang alias gratis.

“Dilihat dari awal pembangunan sampai sekarang, daerah sekitar ASTRO menjadi lebih hidup, yang sebelumnya gelap dan tidak kondusif dengan premanisme. Begitu kita berdiri menjadi lebih terkoordinir,” ujarnya. Untuk CSR, lanjut Ujo, pihaknya bekerjasama dengan kecamatan untuk membantu masyarakat, termasuk tenaga kerjanya, hampir 90% berasal dari masyarakat setempat.

“Ke depan kita akan membuat teras UMKM, karena saat ini sudah mulai masuk beberapa produk UMKM dari Subang,” ujar Ujo seraya menambahkan pihaknya juga selalu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Ciater sendiri kehadiran tempat-tempat wisata tersebut berdampak positif bagi pengembangan ekonomi kerakyatan. Karena sebelumnya Ciater hanya dikenal dengan wisata pemandian air panas, tapi sekarang sudah ada tempat-tenpat wisata lain di sekitarnya. Hal itu tentu tak lepas dari PTPN VIII yang membuka lebar kerjasama dengan pengelola pariwisata, yang pada gilirannya berkontribusi signifikan terhadap pembangunan kepariwisataan Kabupaten Subang. (*R)