Melalui NPCI Atlet Paralympic Berprestasi Akan Mendapatkan Kadeudeuh

15 Oktober 2016 / 12:23 WIB Dibaca sebanyak: 870 kali Tulis komentar

atlet-paralimpycBANDUNG BB.Com–Kota Bandung menyumbangkan sebanyak 40% atlet Peparnas untuk kontingen Jawa Barat. 43 dari total 230 atlet paralympic Kota Bandung akan bertanding di ajang olahraga paralympic terbesar di Indonesia itu.

Atlet paralympic Kota Bandung menargetkan akan mendapatkan 45 emas dari 10 cabang olahraga yang diikuti. Hal tersebut dikatakan Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil usai melepas kontingen Peparnas XV Kota Bandung di Plaza Balai Kota Bandung, Rabu (12/10/2016).

“Mewakili 2,4 juta penduduk Kota Bandung saya mengirimkan doa agar para atlet yang akan bertanding di Peparnas selalu bersemangat dan selalu melahirkan prestasi. Ini adalah momen istimewa nasional. Mudah-mudahan dengan doa dan kerja keras keberhasilan dapat diraih oleh para atlet ini,” ungkap Ridwan Kamil.

Pemerintah Kota Bandung sendiri sudah menyiapkan apresiasi bagi para atlet berprestasi. Mekanismenya akan diatur melalui National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).

“Kalau berprestasi ada apresiasi dari Pemerintah Kota Bandung melalui NPCI dalam bentuk dukungan uang kadeudeuh,” terangnya.

Ia berharap agar para atlet Paralympic Kota Bandung dapat berprestasi dengan menjunjung tinggi sportivitas. Ia menginginkan agar kejuaraan ini tidak hanya menghasilkan medali dan meningkatkan prestise melainkan juga bersifat pembinaan jangka panjang dalam menanamkan nilai-nilai sportivitas olahraga.

“Saya berharap agar prestasi olahraga Kota Bandung bisa meningkat dengan cara-cara yang baik, fair, dan bersifat pembinaan jangka panjang,” katanya.

Dilaporkan Ketua NPCI Kota Bandung, Adik Fahrozi, bahwa kontingen Peparnas dari Kota Bandung murni merupakan warga asli Kota Bandung, bukan warga asal kota/kabupaten lain yang menjadi atlet perwakilan Kota Bandung. Hal ini diapresiasi penuh oleh Ridwan Kamil.

“Kita harus mengedepankan sportivitas. Yang penting menang dengan terhormat. Buat apa menang dengan cara-cara yang tidak sportif instan, yang akan menjadi contoh buruk, seolah-olah untuk menjadi juara harus menghalalkan segala cara,” tegasnya.

Bagi dia, menjadi pemenang atau juara dengan cara yang tidak sportif sama saja dengan menghancurkan nilai-nilai olahraga itu sendiri. Karena sejatinya, sportivitas mengajarkan manusia untuk jujur, saling menghargai, dan bersifat ksatria.

“Tidak usah memaksakan diri mengejar juara tapi dengan cara-cara yang menghancurkan nilai sportivitas olahraga,” ucap dia.


 

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *