Jembatan Layang (Flyover) Antapani Teknologi Struktur Baja Bergelombang

11 Juni 2016 / 05:11 WIB Dibaca sebanyak: 1281 kali Tulis komentar

Groundbreaking_flayoverBANDUNG BBCom– Inovasi pembangunan infrastruktur di Kota Bandung kembali hadir. Jembatan layang (flyover) Antapani menjadi proyek percontohan hasil karya Balitbang Kementrian PUPR. Jembatan yang pertama menggunakan teknologi struktur baja bergelombang dengan bentang 22 meter yang dibangun di Indonesia ini bertujuan mengatasi kemacetan di pesimpangan sebidang Antapani tepatnya di Jalan Antapani – Terusan Jalan Jakarta yang selama ini menjadi sumber kemacetan.

“Alhamdulilah Kota Bandung dijadikan percontohan untuk teknologi ini, teknologi ini luar biasanya dua, satu harganya sepertiga jadi sangat murah, kemudian waktu pengerjaannya hanya setengah dari waktu normal,” ujar Wali Kota Bandung Ridwan Kamil usai ground breaking jembatan layang Antapani yang dihadiri menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan PLH Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar di Jalan Antapani, Jumat (10/6/2016).

Menurut Ridwan, menurut hasil studi Kota Bandung membutuhkan 30 titik jembatan layang, jika dengan pembangunan normal jembatan beton seharga seratus Milyar, dibutuhkan biaya 3 Triliun.

“Menurut hasil studi, Bandung ini membutuhkan 30 titik, kalau pakai normal kan 30 titik kali seratus milyar sudah 3 triliun, nah ijni dengan biaya 1 T semua fly over di Bandung sudah beres dengan metode tersebut,” kata Ridwan.

Lebih lanjut Ridwan menambahkan menteri PUPR berkomitmen akan memberikan satu lagi titik eksperimen yang berlintasan dengan kereta api, meskipun begitu titik lokasinya belum ditentukan dan masih dalam studi.

Ridwan pun menyampaikan permohonan maaf kepada warga Bandung khususnya penggunan jalan Terusan Jakarta dan Antapani atas ketidaknyamanannya dalam 6 bulan kedepan.

Sementara itu, Menteri PUPR mengatakan pemerintah saat ini tengah membangun insfrastruktur jalan dan jembatan.

“Jembatan layang Antapani yang dibangun dengan struktur baja bergelombang dan dikombinasikan dengan timbungan ringan merupakan salah satu rancang bangun aplikatif yang dikembangkan Balitbang Kementrian PUPR,” ujar Basuki.

Basuki berharap, balitbang kementrian PUPR terus mengembangkan berbagai inovasi penelitian aplikatif yang hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Saya menilai Balitbang kementrian PUPR sudah cukup banyak menghasilkan dan mengembangkan karya-karya yang inovatif dan aplikatif. Saya minta hal tersebut untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan,” tutur Basuki.

Pembangunan jembatan layang Antapani merupakan proyek kerja sama antara Pusjatan Balitbang Kementrian PUPR, Pemetintah Kota Bandung, dan Posco Steel Korea. Dari total anggaran RP 33.5 Miliar yang dibutuhkan untuk pembangunan, komposisinya Rp 12.5 miliar berasal dari anggaran Pusjatan, Rp 10 Miliar dari pemerintah Kota Bandung, Rp 2 Miliar dari Posco Steel Korea dalam bentuk komponen material. (yan/kur)


Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *