oleh

Jamur Barat, Jamur Terucuk dan Jamur Janjangan, Menjadi Berkah Warga Desa Pematang 

SERDANG | BBCOM | Akhir-akhir ini cuaca sedang beralih ke musim penghujan. Hampir setiap malam hujan mengguyur Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Tanah Bertuah Negeri Beradat. Kondisi yang musim penghujan membuat suhu udara kian sejuk dan lebih cenderung dingin.

Namun kondisi ini rupanya memberi berkah bagi warga Desa Pematang Setrak Kecamatan Teluk Mengkudu. Pasalnya masyarakat yang tinggal di sekitar area perkebunan kelapa sawit maupun perkebunan karet milik PTPN III bisa mengais rezeki dengan mencari jamur “barat” dan jamur “terucuk” maupun jamur janjangan di sekitar perkebunan tersebut untuk dikonsumsi ataupun di jual.

Saat menjelang pagi maupun sore dan curah hujan tidak terlalu tinggi, masyarakat beramai-ramai pergi ke areal perkebunan untuk mencari jamur yang tumbuh liar di sana. Biasanya jamur tersebut tumbuh di sekitar pohon sawit maupun pohon karet yang tumbang. Umumnya yang mencari jamur tersebut adalah para ibu rumah tangga. Bersama-sama dengan teman lainnya, biasanya mereka bergerombolan menuju areal perkebunan sawit.

Selain enak dikonsumsi, jamur ini juga punya nilai ekonomis yang lumayan bisa menambah kebutuhan bagi mereka.

Susi warga Dusun V Sidodadi Desa Pematang Setrak merupakan salah satu masyarakat yang turut mencari jamur bersama dengan temannya.

 “Saya mencari jamur hanya sekedar untuk dimasak atau dijadikan lauk saja. Biasanya saya tumis, disemur ataupun saya goreng jadi jamur crispy. Rasanya enak dan anak-anak menyukainya,” ujarnya sembari tertawa.

Ia pun menyebut, ragam jamur yang sering didapat oleh masyarakat Sidodadi ini adalah jamur barat, terucuk hitam, terucuk putih serta jamur janjangan. Dikatakan jamur janjangan, sebutnya lagi, karena jamur ini tumbuhnya di janjangan kelapa sawit yang sudah tidak ada buahnya.

“Kalau jamur barat sendiri berbentuk batang dan tudung atas seperti caping gunung, tinggi sekitar 8 cm. Diameter atau besar batang maksimal 1 cm. Lebar tudung atas lebar lebih kurang 12 cm, berwarna putih agak kelabu dan kecoklat-coklatan, dan mempunyai bau yang khas. Sedangkan jamur terucuk hutam maupun putih itu bentuknya kecil-kecil dan memanjang. Lain halnya dengan jamur janjangan, tumbuhnya disekitaran janjangan kelapa sawit dan bentuknya lebih kecil. Sudah seminggu ini, banyak masyarakat yang mencari jamur. Jika mendapat banyak tentu saja bisa dijual dan hasilnya lumayan tambah-tambah kebutuhan dapur,” bebernya.

Ia melanjutkan jika jamur tersebut juga tumbuhnya musiman. Tidak setiap hari ada bisa didapat di areal perkebunan. Kalau musim hujan seperti sekarang ini rezeki-rezekian, terkadang dapat kadang juga tidak, susah-susah gampang, kata ibu tiga orang anak ini menuturkan.

”Kadang-kadang kami nyarinya di semak-semak atau di bawah pohon. Udah capek-capek gak ketemu. Tapi kalau tidak dicari biasanya sering  nongol sendiri,” akunya.

Sementara itu ibu-ibu lainnya yang juga ikut mencari jamur biasanya untuk dikonsumsi. Namun bila mendapat banyak maka akan mereka dijual. Penjualannya pun cukup gampang. Hanya menawarkan pada tetangga saja. Apabila mendapat jamur dengan jumlah banyak, maka akan dipasarkan melalui media sosial.

Salah satu akun media sosial Facebook, bernama Retno Sasmita. Ia tak hanya memasarkan jamur saja, akan tetapi ia kerap posting produk secara online. Jika musim penghujan seperti ini, ia kerap memasarkan jamur yang bisa dikonsumsi. Perbungkusnya dibanderol dengan harga Rp.10 ribu. Tentu saja peminatnya lumayan banyak. Dan dalam sekejap jamur yang dipasarkan di media sosial akan habis terjual. (uden /kami sergai)

Komentar