Bahasa Sebagai Alat Pemersatu Bangsa

15 Desember 2016 / 19:05 WIB Dibaca sebanyak: 672 kali Tulis komentar

Bandung, BB.ComRadikalisme dan sikap intoleran merupakan salah satu cikal bakal konflik sosial dan terorisme yang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Paham yang semula hanya mempengaruhi kalangan masyarakat yang termarjinalisasi, terindikasi telah menjalar kalangan intelektual dan lapisan masyarakat lain.

Pada 6 Desember 2016, kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 di Sabuga, Bandung, mendapat penolakan dari sejumlah organisasi Islam. Ormas Pembela Ahlu Sunnah (PAS) dan Dewan Dakwah Islam (DDI) menganggap, gedung Sabuga bukan sebagai tempat ibadah. Menurut mereka, selama ini ummat muslim tidak pernah mengganggu ummat lain beribadah di gereja. Sementara KKR di Sabuga disinyalir sebagai aksi terselubung berbalut KKR.

“Kebhinnekaan itu fitrah, tidak ada yang sama. Anak kembarpun tidak sama, sifatnya, fisiknya. Kita dibesarkan di kultur berbeda beda. Karena itu, bukan perbedaannya yang diangkat, namun bagaimana kita yang beragam ini bisa saling mengenal, bersilaturrahmi,” jelas Dr. Prayoga Bestari SP.d, MS.i saat diskusi publik bertema Harmonisasi bangsa dalam kebhinnekaan di Fisip Unpad, Bukit Dago Bandung Kamis (15/12).

Karena itu, tambah alumni Unpad ini lagi, saat orla berdiri, Soekarno pernah bilang kita akan melaksanakan harmonisasi perkawinan antar suku. Dan itu banyak terjadi misal orang padang nikah sama orang Jawa. “Hasilnya hebat, tidak ada ketersinggungan adat istiadat, malah semakin menguatkan antara satu dan lainnya,” tambah dia.

Tidak sampai disitu, saat orba ada transmigrasi. “Ini sejarah. Kenapa, karena cikal bakal suku ini dominan berasal dari kerajaan-kerajaan. Walau misal sama-sama suku Sunda, bahasanyapun berbeda. Bahasa menjadi alat komunikasi antar suku, sebagai pemersatu, sementara ideologi yang mempersatukan kita adalah Pancasila,” pungkasnya.

Sementara Riky Renaldy, pengamat sosial politik mengungkapkan, permasalahan bangsa saat ini diantaranta agama. Agama tidak terjadi saat ini saja, di timur masjid sulit berdiri, suara adzan. Di bandung kasus gereja, sesama muslim berantem, kristen berantem.

“Kalau masyarakat percaya sama pemerintah, tentunya tidak akan ada demo. Unsur curiga dalam masyarakat saat ini cukup tinggi. Dan memang itu beralasan. Belum lagi Media sosial, yang bisa diibaratkan pisau, bisa dipakai untuk potong cabe, bawang, namun juga bisa untuk membunuh, ini yang harus kita cermati,” kata Riky.

Dia menggambarkan pemuda pemudi kebablasan dengan medsos. Etika dan aturan sudah tidak diindahkan. “Coba sekarang kita lihat, anak kecil ciuman, lalu diupload di medsos. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan, setidaknya jangan menambah masalah. Sebagai pemuda, kita harus membantu pemerintah, dengan menulis karya ilmiah, kajian, jangan malah merecoki, dengan mengupload ada menshare berita-berita atau gambar-gambar yang semakin menghancurkan bangsa kita sendiri,” pungkasnya.

Seminar dan diskusi itu diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai kampus seperti Unpad, Unjani, dan universtias lainnya. (KASEP)


Keterangan Foto : Diskusi Dr. Prayoga Bestari SP.d, MS.i, (kiri), Riky Renaldy dan Asep, aktivis mahasiswa saat diskusi publik tentang Harmonisasi bangsa dalam kebhinnekaan di Fisip Unpad Bandung. BB.Com-Kasep


 

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *