Mentawai Akan Buka Rahasia Racun Alat Panah Tradisionalnya

8 Juli 2017 / 20:46 WIB Dibaca sebanyak: 479 kali Tulis komentar

PADANG BBCom – Berwisata ke Mentawai, jajaran kepulauan terdepan di Samudera Hindia, Provinsi Sumatera Barat, jangan jadi mimpi terus. Tiba saatnya untuk segera diagendakan berwisata ke daerah yang memiliki tujuh keunikan dunia, yang tiada duanya. Dalam waktu dekat, tanggal 26-28 Juli mendatang, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai, menggelar Festival Panah Tradisional Mentawai untuk pertama kalinya, di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Pulau Siberut.

“Wisatawan Nusantara dan Mancanegara yang berkunjung untuk menyaksikan Festival Padang Tradisional Mentawai ini tidak saja sekadar menyaksikan lomba memanah dengan alat panah tradisional, tetapi juga bisa mengetahui bagaimana meracik racun anak panah yang selama berabad-abad dirahasiakan dan menjadi senjata andalan masyarakat Mentawai,” kata Desti Seminora, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai, dalam bincang-bincang hari Jumat (07/07/2017) di Tuapeijat, Pulau Sikakap, Mentawai.

Desti Seminora menjelaskan, panah yang dalam bahasa Mentawai “rourou” bagi laki-laki Mentawai adalah benda penting yang selalu dibawa, terutama kalau pergi ke hutan. Fungsi utama panah bagi laki-laki Mentawai adalah sebagai senjata jika menemukan binatang buruan yang kemudian dibawa pulang ke rumah untuk dimakan sekeluarga. Dan panah adalah benda yang selalu ada di rumah orang-orang Mentawai.

Hampir semua panah Mentawai dibubuhi racun yang tujuannya untuk mempercepat kematian binatang buruannya. Bahan racun panah Mentawai berasal dari tumbuhan yang diracik secara khusus yang kemudian dioleskan pada ujung anak panah. Jika tepat sasaran maka seketika buruan akan lemas terkena racun panah tersebut. Manusia juga harus berhati-hati agar tidak tersentuh racun tersebut. Tersedia juga obat penawar dari racun yang juga diracik dari tumbuhan yang berasal dari hutan sekitar rumah.

“Panah adalah sesuatu yang sudah dikenalkan pada semua anak laki-laki Mentawai bahkan kepada anak balita, pengenalan benda ini biasanya dirayakan dengan pesta adat. Tentunya dengan jenis panah yang berbeda sesuai dengan usia dari anak laki-laki tersebut,” ujar Desti.

Akan tetapi seiring dengan modernisasi yang mulai memasuki Mentawai, demikian Desti menegaskan, telah terjadi pergeseran pemakaian senjata khas berburu Mentawai yakni mulai menggunakan senapan angin daripada panah itu sendiri. Dan melalui kegiatan Festival Panahan Tradisional Mentawai ini, ditanamkan kembali kecintaan dan kebanggaan bagi masyarakat Mentawai tentang budayanya sendiri yakni salah satunya adalah “rourou” Mentawai.

Menurut Desti, Festival Panah Tradisional Mentawai ini selain bertujuan untuk pelestarian nilai-nilai luhur kebudayaan Mentawai dan upaya penyatuan para pemanah tradisional Mentawai, juga untuk mengangkat budaya Mentawai yang unik dan eksotis sebagai kalender tahunan event pariwisata Mentawai.

Sekaligus untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara ke Mentawai.Memperkenalkan kembali benda budaya Mentawai yakni panah Mentawai yang merupakan senjata khas Mentawai.

Menanamkan rasa bangga dan cinta generasi muda Mentawai akan budaya Mentawainya sendiri dan menjaring bibit-bibit pemanah tradisional yang andal yang bisa menjadi cikal bakal atlet panah nasional.

Karena itu, peserta terbuka bagi siapa saja. Bahkan pihak panitia juga mengundang atlet panahan nasional dan provinsi di Indonesia untuk berpartisipasi, uji nyali memanah dengan alat panah tradisional khas Mentawai.

Didampingi Kabid Pemasaran Aban Barnabas Sikaraja dan Kasi Sarana Promosi Kepariwisataan, Kepala Dinas Pariwisata Pemudan dan Olahraga Desti Seminora menambahkan, pada Festival Panah Tradisional Mentawai juga akan ditampilkan tarian Mentawai oleh Sikerei dan bazar cendera mata serta kuliner khas Mentawai.

“Jadi ini kesempatan langka bagi wisatawan untuk menambah pengetahuan dan menikmati seni-budaya dan keindahan alam Mentawai, khususnya Pulau Siberut yang menjadi paru-paru dunia dengan jenis kera endemik seperti joja, bokkoi, simakobu, dan beragam jenis hutan yang asri dan lestari di kawasan Taman Nasional Siberut Selatan,” kata Desti Seminora. (Yurnaldi / M. Fadhli)

Bagikan
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *